Pagi itu Mbah Ponco Sutinem (97) menyiangi tanaman jagung di ladang yang ada di samping rumahnya, Dusun Batusari, Desa Kampung, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Meski umurnya hampir seabad, namun tetap berkarya sebagai petani. Dia tidak ingin menyusahkan orang-orang dekatnya.
Namun siapa sangka, Mbah Ponco Sutiyem justru menjadi nominasi kategori aktris terbaik dalam ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017.
Dia membalikkan kesan penampilan aktris selama ini yang identik dengan gaya hidup glamor, tinggal di rumah mewah, usia di kisaran belasan hingga 30 tahunan, sering menghiasi layar kaca karena gosip hingga naik mobil mewah.
Panitia ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017 mengumumkan pada Kamis (4/5) malam di Kuching, Sarawak, Malaysia bahwa Mbah Ponco masuk nominasi aktris terbaik.
Salah satu Film asal Indonesia karya Sutradara BW Purba Negara berjulul "Ziarah" masuk dalam beberapa nominasi yakni Best Film, Best Screenplay, Best Director, dan Best Actress.
Mata Mbah Ponco berbinar-binar, senyumnya merekah lebar setelah mendengar kabar itu meski dia tidak tahu apa itu AIFFA.
Masih segar dalam ingatan Mbah Ponco yang kelahiran 1920-an itu. Saat itu, ada pria datang ke rumahnya bertanya soal kenapa masih bertani dalam usia tua.
Orang itu diminta menceritakan perjalanan hidupnya pada masa penjajahan Belanda, Jepang hingga masa kemerdekaan .
Ia menceritakan perjalanan masa penjajahan Jepang di Gunung Kidul pada 1940-an. Saat itu, dia dan anaknya harus bersembunyi di bawah meja dengan ditutup tumpukan sorgum.
Ia bersembunyi supaya tidak dibawa tentara Jepang.
"Saat itu, saya sudah pasrah kalau mau dibunuh. Saat itu, saya, anak dan saudara sampai kelaparan ketika bersembunyi," kata Mbah Ponco dengan semangat.
Namun, air mata Mbah Ponco berlinang saat menceritakan pahitnya perjuangan hidup pada 1970-an hingga 1980-an saat terjadi paceklik pangan.
Wilayah Ngawen terserang hama tikus sehingga hasil panen mulai dari padi, jagung, ketela hingga kacang tanah dimakan tikus. Akibatnya, kelaparan terjadi dimana-mana termasuk menimpa keluarga Mbah Ponco.
"Saya beli dedak atau bekatul satu kilogram untuk dimasak. Suami dan anak saya langsung diare karena makan bekatul. Jaman dulu sangat sulit, hidup susah," kata Ponco.
Mbah Ponco kembali bersemangat saat kembali menceritakan dirinya melakukan adegan syuting. Dia mengaku saat pengambilan gambar diajak ke beberapa lokasi di desanya, dan beberapa lokasi lainnya, seperti di wilayah Bayat dan Jombor, Klaten. Sampai ke Embung Bathara Sriten di Kecamatan Nglipar, Gunung Kidul.
Pengambilan gambar dilakukan 12 hari secara bertahap.
"Saya diajak dua kali yang hari pertama empat hari dan yang hari kedua delapan hari. Itu masuk ke desa-desa, di Jombor, sebuah makam di Bayat, Klaten dan Betara Sriten," katanya.
Merujuk dari sinopsis film tersebut, pada saat agresi militer Belanda ke-2 di tahun 1948, Sri yang diperangkan Mbak Ponco terpisah dengan Prawiro. Setelah beberapa tahun mencari tak ketemu, dan akhirnya bertemu dengan seorang sahabat Prawiro.
"Pada film Ziarah itu, nama saya Sri, katanya saya disuruh mencari kuburan seseorang, dan saya beli kembang di pasar, lalu menaburkan di atas makam," ucapnya.
Dia mengaku tak bisa membaca sama sekali, dan mengikuti segala sesuatu yang diarahkan oleh sang sutradara. Bahkan, meski tak memiliki kemampuan akting namun dirinya mengaku tak minder untuk beradu peran dengan beberapa pemain.
Saat pengambilan gambar, dia selalu diajari oleh Bagus yang selama syuting menjadi mentor di setiap adegan yang dimainkannya.
"Kulo mboten wedi, kalih wong gede-gede . Ngasi ponakan kulo sik ten Jakarta takon kok wani. Kulo niku gih wani. Kulo mboten saget moco," kata dalam Bahasa Jawa halus sambil tertawa.
Artinya adalah saya tidak takut bersama orang-orang kaya. Sampai saudara saya yang di Jakarta tanya kok berani, tetapi saya menjawab tetap berani, meski saya tidak bisa membaca.
Dia mengaku teringat saat beradu akting dengan sang menantu nomor 3-nya, Supriyanto yang menggunakan Jawa halus. Padahal sebagai orang tua dirinya yang seharusnya dihormati sebagai ibu.
"Kulo diken boso kalian anak kulo, saya itu tertawa. lha wong sama anak kok boso," katanya.
Artinya adalah saat itu saya disuruh berbahasa Jawa halus kepada anak saya.
"Saya tertawa sampai empat kali. Lha sama anak kok disuruh berbahasa Jawa halus," katanya.
Saat ini Mbah Ponco memiliki anak tujuh orang, cucu 27 orang, buyut 40 orang, dan canggah (anak cucu) empat orang.
Dia pun mengaku ingat beberapa nama cucunya. Saat ini Ponco Sentono dan Ponco Sutiyem tinggal di rumahnya, dan tak jauh tinggal anaknya nomer 5 bernama Kamti yang setiap hari mengurusnya.
Ponco Sutiyem tidak lulusan sekolah rakyat. Dia hanya bisa menulis namanya karena saat kelas 1 langsung keluar tidak melanjutkan sekolah.
"Saya hanya bisa menulis nama. Dulu, kalau bukan anak lurah tidak ada yang sekolah," katanya.
Mbah Ponco berharap seluruh anak cucunya selalu sehat, rejeki melimpah dan selalu bertakwa dan beriman kepada Allah SWT.
(U.KR-STR)
