Presiden panggil Siti Nurbaya terkait kebakaran hutan

id Presiden panggil Siti Nurbaya terkait kebakaran hutan

Presiden panggil Siti Nurbaya terkait kebakaran hutan

Ilustrasi, kebakaran lahan di Desa Pelabuhan Dalam, Pemulutan, Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Jumat (4/8). (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/ama/17)

Jakarta (Antara) - Presiden Joko Widodo memanggil Menteri Lingkungan Jidup dan kehutanan Siti Nurbaya terkait kebakaran hutan dan lahan yang akhir-akhir ini meningkat.

"Tadi Bapak nanya, apakah sudah diperlukan untuk rapat koordinasi lagi kebakaran hutan dan lahan karena naik," kata Siti Nurbaya usai dipanggil Presiden di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta, Senin.

Siti mengatakan bahwa dirinya akan menindaklanjuti pelaksanaan rapat koorinasi ini dengan Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan akan menyurati untuk minta rakor ke seluruh kepala daerah.

"Terutama di daerah yang rawan, karena (tahun ini) ada 'pemain baru' seperti Aceh, Sultra, Sulut, kemudian NTT yang mencapai 1.000 hektare lebih juga," katanya.

Siti Nurbaya mengungkapkan data pada Juni 2017 terdeteksi 231 titik api (hotspot) lebih besar dibanding 2016 yang hanya 155 titik api namun masih jauh dari data 2015 yang mencapai 2.043 titik api.

Sedangkan pada Juli 2017 datanya mencapai 558 hotspot lebih besar dari Juli 619 yang hanya 247 namun pada 2015 mencapai 2.043 titik api.

Menteri LHK mengaku telah melaporkan kepada Menko Polhukam  Wiranto terkait kewaspadaan cuaca puncak kemarau yang diperkirakan puncaknya pada Agustus-September.

"Kalau lihat cuaca di 2015 ini di September, jadi ini kita harus waspada ini di Agustus-September realtif berat makanya saya segera mengusulkan untuk rapat koordinasi," kata Siti Nurbaya.

Dia juga mengungkapkan beberapa daerah sudah mengalami kebakaran, diantaranya di Sumut 1100 hektar terbakar, di Riau berdasarkan laporan 470 hektare namun berdasarkan pengamatan citra satelit sudah 5.000-an hektare.

"Jadi seperti ini kita harus kroscek semua, selain hotspot, saya selalu lihat pake ISPU (pencemaran udaranya)," jelasanya.

Siti Nurbaya mengatakan pada tahun inni sistem pemantauan  terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan sudah lebih baik, termasuk sistem ke lapangan juga sudah lebih baik.

"Artinya cepat ketahuan dan ditangani," kata Siti Nurbaya.

Namun, lanjutnya, di beberapa daerah mengalami kekurangan air dan masalah lainnya sehingga sistem pencegahannya kurang kuat.

Siti Nurbaya mengatakan dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan ini telah dilakukan berbagai langkah, diantaranya pembuatan sekat kanal telah dilakukan.

"Sekat kanal itu rencananya itu sampai dengan sekarang ada 21 ribu sekat kanal, embung 2.581, bor sudah 11.900. Jadi sebetulnya upaya sudah ada," ungkapnya. ***2***(J008)
Pewarta :
Editor: Agus Priyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar