DPD RI harapkan bandara NYIA segera diselesaikan

Pewarta : id bandara

ilustrasi (Foto Antaranews)

Kulon Progo (Antara) - Komite II DPD RI mengharapkan pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, segera diselesaikan.

Ketua Komite II DPD RI Parlindungan Purba di Kulon Progo, Selasa, mengatakan bandara NYIA merupakan proyek strategis nasional yang menjadi prioritas.

"Kami berharap dua tahun ke depan, pembangunan bandara sudah selesai, dan April 2019 dapat beroperasi," kata Purba saat meninjau lokasi pembangunan bandara NYIA.

Ia mengatakan kapasitas bandara yang sedang dibangun cukup besar. NYIA disebutnya akan menjadi hubungan kargo bagi wilayah Jawa Tengah dan DIY. Sehingga, membutuhkan dukungan infrastruktur jalan dan pelabuhan yang bagus.

"Masyarakat di Jawa sekitar 150 juta jiwa dan di Jawa Tengah ada 80 Juta. Ini membutuhkan mobilitas tinggi dan kita harapkan infrastruktur jalan dan pelabuhan bisa bagus juga," katanya.

Purba berharap keberadaan bandara baru Yogyakarta ini akan mempercepat konektivitas antarwilayah serta menunjang pertumbuhan ekonomi daerah setempat dan sekitarnya.

"Yogyakarta khususnya Kulon Progo merupakan kawasan penunjang pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur," katanya.

Sementara itu, Airport Facility Non Terminal Section Head Proyek Pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) PT AP I Gani Wijaya mengatakan tahap pembersihan lahan sudah mencapai 419 hektare dari total lahan proyek bandara seluas 587 hektare.

Lahan yang sudah dibersihkan terutama untuk areal airside (sisi udara; runway, taxiway, apron) yang memang jadi prioritas utama tahap awal pembangunan. Ada pun lahan areal landside (sisi darat; terminal penumpang, perkantoran, kargo) baru sebagian saja yang sudah dibersihkan dan belum mencapai keluasan 200 hektare.

"Proses pembersihan lahan masih terhambat oleh adanya 23 hektare lahan yang belum selesai proses pembebasannya. Lahan tersebut masih dalam tahap konsinyasi dan masih ada 54 bidang tanah yang tengah dalam proses penitipan," kata Gani.

(KR-STR)
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar