Watak Duryudana dan Sengkuni tidak cocok hidup di Indonesia

id Wayang kulit

Ilustrasi pergelaran wayang kulit (Foto antaranews.com)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Pentas seni tradisi seperti pergelaran wayang kulit semalam suntuk bisa jadi pilihan hiburan rakyat dan wisatawan yang sedang berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto di Yogyakarta, Rabu, mengajak warga DIY untuk bersama-sama menonton pertunjukan wayang kulit semalam suntuk yang diselenggarakan DPRD DIY dengan mengambil lakon Duryudana gugur, oleh Ki Seno Nugroho di halaman DPRD DIY pada Rabu (25/7) malam.

 "Kami mengajak warga DIY untuk bersama menonton pagelaran wayang kulit sekaligus jadi ajang pelestarian atau nguri-uri kebudayaan Jawa," kata Eko.

Nuryanto, warga Kasihan Bantul menyatakan masyarakat Jogja menyambut baik pergelaran wayang kulit tersebut.
      
"Lakon Duryudana Gugur mengingatkan kita agar selalu awas dan waspada pada watak dan perilaku Duryudana yang didukung Sengkuni dengan watak licik, culas, angkuh dan pengadu domba, mirip seorang sosok elit politik yang mengadu domba bangsa dengan terminologi partai Allah dan partai setan, " kata Nuryanto.

Kegiatan dalam bentuk pentas budaya seni tradisi wayang kulit,  selama ini memang masih banyak dilestarikan oleh anak muda. Melalui tokoh wayang yang dimainkan ada beragam pitutur atau nasihat dalam bungkus pentas wayang. 

"Watak Duryudana dan Sengkuni dalam pewayangan tampaknya ada  kenyataan di mana ada seorang elit politik yang senang bikin ulah, mengujarkan kebencian dan juga berwatak licik dan culas serta suka mengadu domba," kata Nuryanto. 

Ahmad Baidlowi, warga Godean Yogyakarta menambahkan melalui pentas wayang,  rakyat atau penonton bisa juga belajar penokohan.

"Ada banyak kisah teladan, watak yang melekat pada Duryudana dan Sengkuni tidak cocok hidup di Indonesia, apalagi di Jogja yang menjunjung tinggi nilai nilai luhur seperti cinta persatuan dan kedamaian," kata Baidlowi.




















 
Pewarta :
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar