Produksi bawang merah Kulon Progo meningkat

id Bawang merah,Panen,Kulon progo

Petani Desa Srikayangan Kabupaten Kulon Progo, DIY, panen bawang merah. Produksinya melimpah. (Foto Antara/Mamiek)

Kulon Progo (Antaranews Jogja) - Produksi bawang merah di Bulak Srikayangan, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami peningkatan hingga 20 persen lebih pada masa panen Oktober ini dibandingkan hasil panen Oktober 2017.
     
Petani bawang merah Desa Srikayangan Pujiyanto di Kulon Progo, Kamis, mengatakan dengan luas lahan 2200 meter, hasil produksi bawang merah tahun ini sebanyak 3,8 ton atau naik sekitar 20 persen dari produksi 2017 sebanyak 3,04 ton.
     
"Produksi bawang merah tahun ini memang cukup bagus. Buahnya besar-besar dan dagingnya juga tebal. Namun, biaya produksinya juga meningkat dibandingkan 2017," katanya.
     
Ia mengatakan dari lahan bawang merah 2.200 meter,  1.800 meter dijual ke pedagang dengan harga Rp32 juta. Sisanya yang 400 meter, hasil panen disimpan untuk benih masa tanam berikutnya pada Januari atau Maret 2019.
     
Harga bawang merah di tingkat petani per kilogram sudah di atas Rp10 ribu per kilogram. Sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk produksi dengan lahan seluar 2.200 meter sekitar Rp20 juta, baik untuk beli benih, bahan bakar minyak (BBM) untuk menyiram bawang merah, dan pupuk.
     
"Kami masih mendapat untung dengan harga bawang merah di atas Rp10 ribu. Kalau Rp8.000 per kilogram hanya balik modal produksi," katanya.
     
Terkait alasan dirinya jual bawang merah di sawah dan tidak melalukan tunda jual, Pujiyanto mengaku dirinya pinjam modal ke bank dengan sistem jatuh tempo tiga bulan. Dirinya hutang ke bank sebesar Rp20 juta, dan harus dibayar pada bulan ini juga. Pinjaman Rp20 juta harus dibayarkan sekitar Rp21,5 juta.
       
"Kami jual sekarang karena harus bayar hutang ke bank karena sudah jatuh tempo. Kami hutang pada Agustus dan harus dikembalikan pada Oktober ini. Setiap tahun kami pinjam modal ke bank untuk biaya tanam bawang merah ini," katanya.
   
Petani bawang merah Desa Srikayangan lainnya, Giran mengatakan produksi bawang merah tahun ini memang cukup bagus. Namun, biaya menyirami tanaman bawang merah dari masa tanam hingga panen membutuhkan bahan bakar minyak sebanyak 350 liter.
     
Giran mengaku kecewa petani dibatasi membeli BBM jenis premium, padahal digunakan untuk bahan bakar disel menyirami bawang merah. Sehingga dirinya terpaksa menggunakan BBM jenis pertalite.
     
"Orang bermobil boleh beli premium tanpa dibatasi, tapi kenapa kami beli premium untuk menyiram bawang merah dibatasi," keluhnya.
   
Namun demikian, Giran berterima kasih kepada pemerintah yang memberikan pupuk bersubsidi, sehingga menekan biaya produksi.
     
"Kalau kami menggunakan pupuk non-subsidi, petani pasti rugi. Untung, pemerintah masih memberi pupuk subsidi sehingga menekan biaya produksi," katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar