Keraton Yogyakarta serahkan "ubo rampe" labuhan Gunung Merapi

id Ubo rampe labuhan ,Merapi

Abdi Dalem Keraton Yogyakarta menyerahkan "ubo rampe" labuhan kepada Juru Kunci Gunung Merapi Mas Asih (kiri) di Pendopo Kecamatan Cangkringan, Sleman. (Foto Antara/Victorianus Sat Pranyoto)

Sleman (ANTARA) - Keraton Yogyakarta menyerahkan "ubo rampe" labuhan Gunung Merapi kepada juru kunci Merapi Masbekel Anom Suraksosihono di Kantor Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Sabtu (6/4).

Labuhan Merapi rutin digelar setiap tahun dalam rangka peringatan "Tingalan Jumenengan Dalem" atau peringatan naik takhta Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Pada tahun ini Labuhan Merapi akan dilangsungkan Minggu 7 April yang akan diawali dari petilasan Kinahrejo (bekas rumah Mbah Maridjan) menuju ke Bangsal Srimanganti di lereng Gunung Merapi.

Serah terima "ubo rampe" Labuhan Ndalem Keraton Yogyakarta di Pendopo Kantor Kecamatan Cangkringan mengawali Hajad Dalem Labuhan Merapi.

Juru kunci Gunung Merapi, Masbekel Anom Suraksosihono atau yang akrab disapa Mas Asih mengatakan, tidak ada prosesi yang berbeda meski kondisi Merapi saat ini aktivitasnya naik pada level dua atau waspada.

"Prosesi labuhan tetap berlangsung seperti biasa, tidak terlalu takut. Kita mohon kepada Allah semoga labuhan diberi kelancaran, dan yang mengikuti prosesi labuhan diberi keselamatan, sehingga nanti bisa lancar, selamat sampai nanti upacaranya selesai," katanya.

Prosesi penyerahan "ubo rampe" tersebut diawali kedatangan rombongan abdi dalem Keraton Yogyakarta di Pendopo Kecamatan Cangkringan sebagai wilayah tertinggi di lereng Merapi sisi selatan DIY.

Oleh abdi dalem "ubo rampe" tersebut kemudian diserahkan kepada juru kunci Merapi.

Selanjutnya ubo rampe yang di antaranya berisi Sinjang Limarang, Sinjang Cangkring, Semekan Gadung dan Semekan Gadung Mlati dibawa ke Petilasan Hargo Ndalem atau Petilasan Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo.

"Setelah menerima 'ubo rampe', kemudian, 'disarekan (menginap) semalam di Petilasan Mbah Maridjan. Besok pagi baru dibawa ke atas, ke Sri Manganti di lereng Merapi," kata Mas Asih.

Setelah upacara penyerahan "ubo rampe" kemudian dilanjutkan gelar budaya Labuhan Ndalem di halaman pendopo Petilasan Mbah Maridjan, wilujengan, pagelaran wayang kulit dan doa.

Hingga kemudian pada Minggu (7/4) sekitar pukul 06.00 WIB akan dilakukan prosesi Labuhan Merapi dengan berjalan kaki "topo mbisu" menuju Bangsal Srimanganti untuk prosesi lanuhan dan pembagian sedekah berupa "sego gurih" (nasi uduk) atau yang disebut "lorotan".

"Inti makna labuhan ini agar kita bersyukur kepada pencipta, mohon kepada Allah supaya diberi kesehatan, keselamatan, dijauhkan dari malapetaka," katanya.

Abdi Dalem dalam Kraton Yogyakarta, KRT Widyo Bayu Kusumo yang menyerahkan "ubo rampe" mengatakan kegiatan labuhan Merapi dilaksanakan dalam rangka jumenengan Raja Kraton Yogyakarta.

"Secara umum prosesi labuhan tidak ada perubahan, tetap sama dengan tahun sebelumnya dengan berpedoman pada pakemnya. Namun tahun ini hanya labuhan 'Alit'. Labuhan Ageng hanya dilaksanakan setiap tahun Dal," katanya.

Ia mengatakan, labuhan Merapi tahun juga sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan dan leluhur, yang telah menjaga Gunung Merapi, sehingga terjalin komunikasi dan hormanisasi.

"Sebagai ungkapan syukur tersebut maka dalam labuhan ini Raja Keraton Yogyakarta memberikan benda-benda kesukaan," katanya.***3***
 
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar