Hasil pengujian sampel sapi di Yogyakarta negatif antraks

id Sapi, antraks

Ilustrasi - Seorang warga memilih daging sapi yang akan dibeli di lapak pasar Sentral Kota Gorontalo, Gorontalo, Kamis (31/1/2019). Penjualan daging tidak terpengaruh dengan adanya warga yang terkena antraks di Kabupaten Gorontalo yang merupakan daerah pemasok sapi, selain itu harga pun tetap normal Rp.110.000 perkilogram. (ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta menyebut, hasil pengujian laboratorium untuk beberapa sampel sapi, baik berupa daging, darah, dan sampel tanah serta residu di pertenakan, seluruhnya menunjukkan hasil negatif antraks.

“Sudah ada hasilnya. Semua sampel yang diuji dinyatakan negatif antraks,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto di Yogyakarta, Selasa.

Menurut Sugeng, usai isu dugaan sapi yang terkena antraks di Kabupaten Gunungkidul muncul, berbagai pihak langsung melakukan upaya pencegahan cepat. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melakukan lokalisasi sapi, sedangkan Kota Yogyakarta melakukan pengujian laboratorium.

“Di Kota Yogyakarta pun, sebenarnya hampir tidak pernah ada sapi dari Gununglkidul yang masuk. Biasanya, sapi yang masuk ke Yogyakarta berasal dari Bantul dan Boyolali,” katanya.

Selain itu, lanjut Sugeng, sapi yang dimiliki beberapa peternak di Kecamatan Kotagede dan Tegalrejo biasanya tidak ditujukan sebagai sapi konsumsi untuk disembelih, tetapi sapi tersebut dipelihara untuk dibesarkan saja kemudian dijual menjelang Idul Adha.

Meskipun demikian, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta juga melakukan upaya pencegahan dengan menyemprotkan disinfektan di penampungan sapi yang berada di Rumah Pemotongan Hewan Giwangan.

Setiap hari, RPH Giwangan bisa memproduksi sekitar dua ton daging sapi untuk didistribusikan ke pasar-pasar tradisional di Kota Yogyakarta. Produksi tersebut belum memenuhi kebutuhan daging sapi yang mencapai enam ton per hari, sehingga kekurangan empat ton daging dipenuhi dari Bantul dan Boyolali.

“Kami pun memberikan antibiotik ke petugas di Rumah Pemotongan Hewan Giwangan yang kerap bersentuhan langsung dengan sapi-sapi yang akan disembelih,” katanya.

Selain antraks, penyakit yang juga kerap menyerang sapi atau hewan ternak lain adalah penyakit kuku dan mulut. “Untuk penyakit ini, juga sangat jarang terjadi di Kota Yogyakarta. Penyakit tersebut biasanya terjadi karena kondisi kandang yang tidak bersih dan sehat,” katanya.

Karena di Kota Yogyakarta, lanjut Sugeng, jumlah sapi di pertenakan tidak terlalu banyak maka potensi penularan penyakit tersebut cukup rendah.
Baca juga: Gunung Kidul suntik antibiotik ratusan ekor ternak sapi cegah antraks

Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar