UGM mengembangkan "drone" amfibi untuk memantau kondisi gunung berapi

id Drone Amphibi UGM

Amphibi Gama V2, drone berjenis fixed wings yang memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat di atas permukaan air maupun di darat diuji coba di Laguna Muara Opak Bantul, DIY (Foto Istimewa)

Yogyakarta (ANTARA) - Tim peneliti Universitas Gadjah Mada mengembangkan wahana unmanned aerial vehicle (UAV) yang diberi nama Amphibi Gama V2, "drone" berjenis fixed wings yang memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat di atas permukaan air maupun darat.

"Pesawat ini mengemban tugas sebagai sistem monitoring dan memetakan kondisi gunung berapi aktif di Indonesia untuk mendukung kesiapsiagaan tanggap bencana," kata Ketua Tim Pengembang Amphibi Gama V2, Dr. Tri Kuntoro Priyambodo di Laguna Muara Kali Opak, Kabupaten Bantul, DIY, Selasa.

Ia saat menggelar demo penerbangan pesawat di kawasan Laguna Muara Opak Kabupaten Bantul tersebut, mengatakan UAV Amphibi Gama V2 merupakan pesawat terbang tanpa awak amfibi generasi kedua dari pengembangan pesawat UAV Gama UX 628.

Dia menjelaskan ide membuat pesawat itu berawal saat timnya melakukan pemotretan udara untuk menganalisa potensi dan risiko bahaya banjir di wilayah Tanjung Selor, Kalimantan Utara. Saat akan menjalankan misi itu, tim kesulitan mencari area yang datar dan cukup panjang untuk "take off" dan "landing" pesawat.

"Ketika itu susah mencari area yang bisa digunakan untuk 'take off' dan 'landing'. Peluang yang ada adalah memanfaatkan genangan air sehingga muncullah pemikiran kalau pesawat UAV yang digunakan harus mampu tinggal landas dan 'landing' di air," kata dosen Fakultas MIPA UGM itu.

Menurut dia, dengan kemampuan tersebut, UAV Amphibi dapat menjadi wahana yang luwes untuk monitoring berbagai jenis bencana, termasuk banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran, dan angin ribut.

"Pesawat ini memiliki kemampuan terbang selama kurang 40 menit untuk jangkauan jelajah 40 kilometer dengan ketinggian jelajah maksimal 1.200 meter, selain itu juga mempunyai kecepatan maksimal pesawat 25 meter per detik, kecepatan jelajah pesawat 13 meter per detik serta kecepatan minimal delapan meter per detik," katanya.

Amphibi Gama V2 memiliki panjang 1.350 mm dengan bentang sayap 2.000 mm. Bodi pesawat dibuat menggunakan bahan material komposit, sedangkan kapasitas daya baterai LiPo 11.000 mAh dengan kapasitas muatan 1,5 kg dan beban muatan maksimal untuk "take off" enam kilogram.

Pesawat itu juga dilengkapi dengan sensor akselerometer, sensor gyroscope, sensor barometer, sensor air speed, serta sistem navigasi GPS.

Sistem penggerak menggunakan motor brushless dan kendali dengan motor servo. Pesawat juga dilengkapi dengan mikroprosesor, kontrol manual berupa remote 2.4 Mhz dan komunikasi telemetry 433 Mhz.

"Kita tambahkan sistem autopilot di dalamnya sehingga mampu terbang secara mandiri untuk monitoring maupun memetakan lingkungan sekitar gunung berapi," katanya.

Apmhibi Gama V2 dikembangkan Tri Kuntoro bersama dengan sejumlah peneliti di Fakultas MIPA UGM.

Selain Amphibi Gama V2, sebelumnya telah dihasilkan sejumlah produk UAV tipe flying wing, yaitu UAV Gama Tipe UX 328, UAV Gama Tipe UX 528, UAV Gama Tipe UX 628, dan tipe fixed wing yakni UAV Amphibi Gama V1.

"Ini untuk mendukung berbagai macam keperluan dan misi serta medannya, kami terus mengembangkan material pembuat badan dan sayap pesawat," katanya.
Baca juga: Mahasiswa UGM kembangkan formula penghambat penyakit ginjal kronis dari jahe


 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar