Ilmuwan temukan dinosaurus 'Kesatria Navajo' yang menakutkan

id dinosaurus

Ilmuwan temukan dinosaurus 'Kesatria Navajo' yang menakutkan

Rekonstruksi Dineobellator notohesperus dan dinosaurus lain dari Formasi Ojo Alamo di akhir Zaman Kapur di New Mexico, memperlihatkan tiga individu Dineobellator di dekat mata air, dengan dinosaurus bertanduk Ojoceratops dan dinosaurus sauropoda di latar belakang, di sebuah latar ilustrasi yang dirilis oleh State Museum of Pennsylvania di Harrisburg, Pennsylvania, AS 26 Maret 2020. Sergey Krasovskiy / Handout via REUTERS (reuters.com)

Dilihat dari bekas luka di salah satu cakar berbentuk sabit yang menakutkan, dinosaurus Zaman Kapur ini juga biasa bertarung dengan sesama spesiesnya.
Washington (ANTARA) - Para ilmuwan telah menemukan fosil dinosaurus berbulu yang menakutkan di New Mexico barat laut yang merupakan predator gesit dan lincah yang mampu memburu mangsa yang lebih kecil atau menyerbu mangsa yang lebih besar dalam serangan secara berkelompok pada 67 juta tahun yang lalu.

Dilihat dari bekas luka di salah satu cakar berbentuk sabit yang menakutkan, dinosaurus Zaman Kapur ini juga biasa bertarung dengan sesama spesiesnya.

Ilmuwan pada Kamis lalu mengumumkan penemuan Dineobellator notohesperus, pemakan daging berkaki dua yang relatif kecil - memiliki panjang sekitar 7 kaki (2 meter) dan tinggi 3 kaki (1 meter) di pinggul, dengan berat 40-50 pound (18- 22 kg). Kekurangan Dineobellator dalam hal ukuran ditutupi oleh keganasan mereka yang luar biasa.


Baca juga: Jejak kaki fosil di Skotlandia ungkap tempat berkumpul dinosaurus

Dineobellator - nama yang berarti "Kesatria Navajo" itu dipilih untuk menghormati penduduk asli Amerika yang tinggal di daerah tersebut - dinosaurus tersebut adalah bagian dari garis keturunan dinosaurus yang sama, dromaeosaurus, spesies terkenal bernama Velociraptor yang hidup sedikit lebih dulu di Mongolia.

“Mereka adalah predator aktif dan cepat. Cakarnya dapat berukuran sampai beberapa inci panjangnya dan cukup kuat, kurang efektif untuk mengiris daging, cakar mereka mungkin lebih berguna untuk mencengkram sesuatu," kata ahli paleontologi Steven Jasinski dari State Museum of Pennsylvania di Harrisburg, yang memimpin penelitian yang diterbitkan dalam jurnal-jurnal ilmiah..

Pada cakar empat inci (10 cm) di tangan kanannya terdapat luka yang cukup dalam mengindikasikan bahwa itu disebabkan oleh perkelaihan antar sesama spesies mereka sendiri.

"Kami berhipotesis itu disebabkan oleh perkelahian dengan Dineobellator lain," kata Jasinski. “Sering kali hewan yang berkelompok akan berkelahi tentang berbagai hal, biasanya sumber daya seperti makanan, wilayah, dan bahkan sinar matahari. Mungkin juga ini adalah perkelahian antara dua pejantan atas pasangan, atau seekor betina melawan pejantan yang agresif ketika dia mungkin tidak merasa siap untuk kawin. "

Fosil dinosaurus tersebut juga memiliki tulang rusuk patah yang sembuh, yang menurut Jasinski "tidak hanya menunjukkan kehidupan yang sulit tetapi juga menunjukkan dinosaurus ini mampu hidup dan setidaknya menghadapi beberapa cedera."

Dineobellator, dipersenjatai dengan barisan gigi pemotong, hidup di dekat akhir zaman dinosaurus, sekitar satu juta tahun sebelum hantaman asteroid memusnahkan mereka, mereka menghuni dataran banjir yang penuh dengan dinosaurus lain termasuk predator yang jauh lebih besar dan berbagai dinosaurus pemakan tumbuhan.

Baca juga: Gunung Merapi kembali meletus dengan tinggi kolom mencapai 2.000 meter

Sekitar 25 persen kerangkanya ditemukan, menunjukkan Dineobellator memiliki inovasi evolusi yang membedakannya dari jenis dromaeosaurus lainnya dengan kekuatan cengkeraman yang lebih unggul di tangannya, peningkatan kelenturan di lengan dan struktur ekor yang unik.

"Menggabungkan fitur-fitur ini menunjukkan Dineobellator adalah pemangsa yang cepat dan terampil serta dapat berlari ke mangsa yang lebih kecil dan menyerang dan melompat ke mangsa yang lebih besar, mencengkram dengan kaki depan yang lebih kuat dan pegangan yang lebih erat," umgkap Jasinski.

"Dineobellator memberi tahu kita," Jasinski menambahkan, "bahwa dinosaurus ini masih terus berusaha dan mencoba jalur evolusi baru bahkan pada saat mereka hampir punah."

sumber: reuters.com

 
Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar