Dosen UGM: AI berpeluang bantu diagnosis penyakit lebih cepat

id AI,kecerdasan buatan,Tumor,Peyakit,Hidung,Mata,Diagnosis,Buatan,Kecerdasan Buatan,Hanung,UGM,Yogya,DIY,DI Yogyakarta,Med

Dosen UGM: AI berpeluang bantu diagnosis penyakit lebih cepat

Illustrasi - pemanfaatan Artificial intelligence (AI) untuk dunia kesehatan. (ANTARA/Shutterstock) .

Yogyakarta (ANTARA) - Dosen Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Hanung Adi Nugroho mengatakan pemanfaatan kecerdasan buatan atau "artificial intelligence" (AI) berpeluang membantu dokter dalam menegakkan diagnosis suatu penyakit pada pasien secara lebih cepat dan akurat.

"Tanpa menggunakan teknologi AI, seorang dokter ahli tetap dapat memeriksa dan menegakkan diagnosis suatu penyakit yang diderita seorang pasien dengan akurat. Namun, dengan bantuan teknologi AI, seorang dokter ahli dapat melakukan ini dengan lebih cepat, akurat, dan efisien," kata Hanung saat dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Teknik Biomedis di Kampus UGM Yogyakarta, Kamis.

Hanung menerangkan, kecerdasan buatan dan teknik biomedis adalah dua bidang yang berkembang pesat dan memiliki potensi revolusioner dalam mentransformasi pelayanan kesehatan.

Menurut dia, AI kini mampu menganalisis citra medis yang dihasilkan oleh peralatan, seperti sinar-X, computed tomography (CT), magnetic resonance imaging (MRI), ultrasonography (USG), dan fundus camera dengan kecepatan dan akurasi yang mengesankan bahkan seringkali mengidentifikasi pola yang mungkin luput dari pandangan manusia.

Integrasi antara AI dan teknik biomedis, kata dia, membuka jalan bagi inovasi yang bertanggung jawab dalam pelayanan kesehatan serta berpotensi memperbaiki pencegahan, diagnosis, hingga terapi penyakit.

"Misalnya, AI dapat membantu mendeteksi tumor atau kelainan lainnya yang mungkin sulit dilihat oleh mata manusia," katanya.

Menurut Hanung, di masa depan seorang tenaga medis di sebuah desa terpencil di suatu kepulauan terpencil di Indonesia memungkinkan mendeteksi penyakit mata, tumor otak, demam berdarah hingga malaria dengan bantuan sebuah perangkat kecil dan dalam hitungan detik mendapatkan rekomendasi hasil diagnosis dari suatu algoritma yang akurat.

"Hal ini terdengar seperti cerita fiksi ilmiah. Namun, apa yang disebutkan tersebut bukanlah sekadar khayalan," katanya.

Menurut Hanung, ada tantangan yang harus dihadapi karena meski potensi penggunaan AI dalam teknik biomedis sangat besar, akan tetapi penerapannya dalam praktik klinis masih terbatas.

Dia tidak menafikan teknologi kecerdasan buatan menawarkan solusi yang sangat menjanjikan karena memiliki kemampuan belajar dan mempelajari data dalam jumlah dan ukuran yang sangat besar (big data), kemudian menerapkan hasil pembelajarannya untuk menyelesaikan kasus nyata.

Meski demikian, Hanung menegaskan secanggih apapun teknologi yang digunakan terutama dalam menegakkan suatu keputusan atau mengambil kesimpulan, AI tetap sebuah alat bantu yang tidak bisa menggantikan Intuisi, rasa, dan pengalaman yang dimiliki oleh manusia.
 
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2024