DKP imbau pembudi daya ikan kurangi kepadatan tebar pada musim kemarau

id Pancaroba,Sumsim bediding,Kulon Progo

Pembudi saya ikan Kulon Progo menerapkan central drain supaya padat tebar dan produksi maksimal. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Kulon Progo (ANTARA) - Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengimbau pembudi daya ikan di wilayah ini mengurangi kepadatan tebar dan menambah pemberian vitamin pada pakan, supaya mampu bertahan pada masa peralihan musim hujan ke kemarau.

"Kami juga mengingatkan supaya pembudi daya ikan mengurangi pemberian pakan, menjaga ikan agar ikan tidak stress, menjaga kualitas air dengan probiotik, dan menjaga stabilitas suhu," imbau Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulon Progo Sudarna di Kulon Progo, Rabu.

Ia mengatakan masa peralihan musim hujan ke kemarau ini, fluktuasi suhu sangat tinggi. Suhu siang hari panas, dan suhu pada malam hari sangat dingin. Ini biasanya terjadi pada Juni-Agustus.

Menurut pengamatan DKP Kabupaten Kulon Progo, pada 2018, suhu kolam pada siang hari di Juni-Agustus dalam kisaran 26 -27 derajat Celcius. Menurut BMKG, pada malam hari di Juli 2019, suhu udara di Daerah Istimewa Yogyakarta dapat mencapai 18 derajat C, dan bisa menjadi lebih dingin pada air kolam.

'Perubahan drastis suhu sampai mencapai 5 derajat C dapat menyebabkan stres pada ikan atau membunuhnya. Stres pada ikan sangat merugikan karena daya tahan tubuh ikan menjadi rendah sehingga gampang terkena penyakit," katanya.

Selain itu, pada masa ini pembenihan dianjurkan di tempat yang terlindungi dari alam (hatchery tertutup). Kalau tidak, dapat dilakukan penutupan kolam dengan terpal atau bahan lain, sehingga suhu air relatif menjadi lebih stabil.

Cara dengan menutup rapat kolam mulai siang hari sampai pagi hari berikutnya. Tutup kolam hanya dibuka sekitar beberapa jam di pagi hari, sekitar 06.00-11.00 WIB untuk mendapat hangat matahari pagi. Dengan cara ini, bibit lele menjadi lebih tahan terhadap penyakit dan terlindungi dari stres akibat perubahan lingkungan.

"Pembesaran ikan bersifat labirinti, yaitu ikan yang tahan terhadap oksigen terlarut rendah, seperti ikan lele gurami, patin, dan nila, dapat dilakukan pada masa bediding ini dengan kontrol lingkungan budi daya dan pakan yang ketat," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Budi Daya Perikanan DKP Kulon Progo Leo Handoko mengatakan pada Juni hingga Agustus, penurunan produksi disebabkan musim "bediding" atau pancaroba dari musim hujan ke musim kemarau.

Kemudian pada Agustus sampai Oktober, penurunan produksi disebabkan ketersediaan air yang minim, menyebabkan sebagian pembudi daya ikan mengistirahatkan kolam sampai musim hujan.

"Masa bediding adalah masa peralihan musim hujan ke kemarau. Pada masa ini fluktuasi suhu sangat tinggi. Suhu siang hari panas, dan suhu pada malam hari sangat dingin. Masa bediding ini biasanya terjadi pada bulan Juni-Agustus," kata Leo.

Ia mengatakan produksi ikan pada Juli sampai September sebanyak 15 persen dari total produksi pertahun. Menurun sebesar 20 persen bila dibanding produksi Oktober sampai Desember sebesar 35 persen dari total produksi pertahun.

Adapun rata-rata produksi ikan di Kulon Progo triwulan kedua sebanyak 3.577,5 ton yang terdiri dari produksi lele sebanyak 1.292,7 ton, gurami 511,2 ton, nila 197,9 ton, udang vaname 1.566,6 ton.

"Penurunan ini lebih disebabkan minimnya ketersediaan air," katanya.

     Baca juga: BKIPM melepas 1,2 juta ekor benih ikan di Waduk Sermo Kulon Progo (VIDEO)
Pewarta :
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar