Yogyakarta (ANTARA) - Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyelenggarakan pembekalan bagi para pengelola Pusat Layanan Keluarga Sejahtera (Satyagatra) yang selama ini banyak mendampingi atau menerima konsultasi para generasi sandwich.
"Tujuan kegiatan ini adalah agar dengan memahami penyebab masalah mereka, para konselor dan pengelola Satyagatra dapat memberikan advis saat memberikan konseling," kata Ketua Tim Kerja KSPK Mustikaningtyas pada pengantar pembekalan di Kantor Perwakilan BKKBN DIY, Selasa.
Saat ini terjadi peningkatan jumlah pasangan muda yang bekerja keras tidak hanya membiayai keluarga (diri sendiri dan anak) namun juga harus membiayai orang tuanya yang tidak produktif.
Generasi dengan kondisi ini dikenal sebagai generasi sandwich, karena mereka seperti terjepit, harus menanggung generasi di atasnya (orang tua) dan juga yang di bawah atau anak-anak mereka. Kadang juga masih ditambah adik atau anggota keluarga lain yang belum bekerja.
Pembekalan ini diikuti para konselor Satyagatra tingkat kapanewon (kecamatan), kabupaten/kota, dan provinsi, dengan tajuk kegiatan "Pengelolaan Satyagatra Provinsi Sebagai Layanan Publik Dan Fasilitasi Satyagatra di Tingkat Kapanewon/Kemantren".
Mustikaningtyas mengatakan, pengetahuan yang didapat konselor diharapkan berguna bagi para peserta, karena sebagian di antaranya juga merupakan pasangan muda dan berpotensi mengalami hal yang sama.
Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta Reny Yuniasanti yang menjadi salah satu pemateri pada pembekalan mengatakan bahwa situasi yang dialami generasi sandwich menimbulkan dampak tidak hanya beban ekonomi, melainkan juga menimbulkan gangguan psikologis.
"Mengutip hasil penelitian, timbul rasa bersalah pada generasi sandwich ini jika tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga (dirasakan oleh 73 persen responden)," katanya.
Ia mengatakan, mereka juga khawatir pada masa depan (66 persen), mengaku sulit menyisihkan penghasilan untuk ditabung (52 persen) dan mudah mengalami stres (40 persen).
"Selain itu mereka juga merasa terhambat mengembangkan karir serta mudah merasa lelah atau sakit," katanya.
Sedangkan pemateri lainnya Harryka Joddy P seorang perencana keuangan mengatakan bahwa kondisi terjepit yang dialami generasi sandwich bukanlah semata-mata kesalahan pasangan muda dalam merencanakan dan mengatur keuangan.
"Justru berawal dari kesalahan generasi sebelumnya yang tidak terpikir atau gagal menyiapkan masa tuanya," katanya.
Ia mengatakan, manajemen keuangan yang buruk, perilaku konsumtif sementara pendapatan rendah, bekerja di sektor yang tidak memberikan jaminan hari tua adalah "dosa-dosa" generasi sebelumnya yang menyebabkan generasi di bawahnya harus menanggung beban atas bawah.
"Dari penelitian yang dilakukan prakarsa.org, 93 persen responden dengan usia produktif sadar bahwa dana pensiun atau jaminan hari tua itu penting. Sayangnya, cuma 11 persen yang mempersiapkannya," katanya.
Harryka mengatakan, resep agar generasi sandwich berkurang bebannya sekaligus mencegah mereka menjadi beban bagi generasi selanjutnya dan menciptakan generasi sandwich lanjutan adalah melalui pengelolaan keuangan yang baik dan mempersiapkan passive income untuk masa tua nanti.
Ia juga mengajak keluarga muda untuk mengevaluasi cash flow keuangan bulanan mereka.
"Dari situ akan terlihat sebenarnya pengeluaran apa saja yang berkontribusi pada 'ketekoran' atau yang menyebabkan sulit menabung/investasi," katanya.
Selain dengan mencatat pengeluaran, bisa juga evaluasi itu dilakukan dengan memeriksa catatan mobile banking di HP.
Saat ini, bahkan beli rujak di warung pun bisa dilakukan pembayarannya dengan QRIS sehingga tercatat.
"Bisa jadi, penyebab tekornya keuangan karena kebiasaan nongkrong ngopi-ngopi di café bareng rekan-rekan setelah jam kantor," katanya.
Kepala Perwakilan BKKBN DIY Mohamad Iqbal Apriansyah berharap para konselor dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan memberikan konseling melalui kegiatan-kegiatan semacam secara online yang banyak diselenggarakan oleh Kemendukbangga/BKKBN, seperti "Tamasya di Kerabat" misalnya.
