Yogyakarta (ANTARA) - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Darmadi Sudibyo menyebutkan pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan III-2025 mencapai 5,40 persen year-on-year (yoy), melampaui pertumbuhan nasional yang sebesar 5,04 persen (yoy).
"Ekonomi DIY mencatatkan pertumbuhan tertinggi di wilayah Jawa dan lebih tinggi dari nasional yang masing-masing tumbuh 5,17 persen (yoy) dan 5,04 persen (yoy)," kata Sri Darmadi dalam keterangannya di Yogyakarta, Jumat.
Pertumbuhan tersebut, kata Sri Darmadi, sedikit termoderasi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,49 persen (yoy).
Dari sisi lapangan usaha, ekonomi DIY terutama ditopang oleh industri pengolahan, konstruksi dan pertanian.
Menurut dia, lapangan usaha industri pengolahan tumbuh 5,07 persen (yoy) pada triwulan III-2025, didorong kinerja industri makanan dan minuman seiring meningkatnya kunjungan wisatawan pada periode libur sekolah.
"Namun, jumlah libur dan cuti bersama yang tidak sebanyak periode yang sama pada tahun sebelumnya menyebabkan kinerja industri pengolahan tidak sebaik triwulan sebelumnya," ujarnya.
Baca juga: Pakar UGM sebut PSEL harus diiringi transisi menuju ekonomi sirkular
Sementara itu, lapangan usaha konstruksi tumbuh 8,77 persen (yoy), melambat dibandingkan 9,38 persen (yoy) pada triwulan II-2025.
Kinerja konstruksi, ujar dia, didukung pembangunan sejumlah infrastruktur fisik yang masih berlangsung, antara lain proyek Tol Yogya-Solo, Tol Yogya-Bawen, pembangunan gedung DPRD DIY, revitalisasi sekolah, serta peningkatan infrastruktur jalan.
"Realisasi pembangunan fisik pada triwulan III sedikit tertahan karena faktor cuaca (musim hujan), namun penurunan lebih dalam tertahan oleh pertumbuhan lapangan usaha pertanian," ucap Sri Darmadi.
Berikutnya, lapangan usaha pertanian pada periode yang sama tumbuh 6,08 persen (yoy), meningkat signifikan dibandingkan triwulan II-2025 yang sempat terkontraksi 0,81 persen (yoy). Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh peningkatan produksi tanaman pangan.
Dari sisi permintaan, lanjut Sri Darmadi, pertumbuhan ekonomi DIY ditopang oleh konsumsi rumah tangga, pembentukan modal tetap bruto (PMTB), dan pengeluaran pemerintah.
Kinerja konsumsi rumah tangga tumbuh 4,29 persen (yoy), didorong pengeluaran masyarakat untuk makanan, transportasi, dan rekreasi pada periode libur sekolah.
Adapun kinerja PMTB tumbuh 10,42 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 8,23 persen (yoy).
Baca juga: Wamen PPPA: Kebun pangan perempuan bisa jadi model ekonomi baru
Dia menilai peningkatan investasi tersebut sejalan dengan pembangunan infrastruktur serta tambahan anggaran Rp307,28 miliar dari APBN DIY untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Pertumbuhan investasi juga didukung peningkatan realisasi belanja modal pemerintah," ujar Sri Darmadi.
Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh melambat sebesar 0,40 persen (yoy) seiring kebijakan efisiensi anggaran, sedangkan ekspor dan impor masing-masing terkontraksi 0,99 persen dan 0,90 persen (yoy), terutama dipengaruhi penurunan ekspor perabot sebesar 18,53 persen (yoy).
Sri Darmadi memprakirakan pertumbuhan ekonomi DIY sepanjang 2025 akan tetap positif pada kisaran 4,8-5,6 persen (yoy).
Meski demikian, berbagai tantangan global dan domestik perlu diantisipasi agar pertumbuhan ekonomi tetap berkualitas dan berkelanjutan.
"Sinergi dan kolaborasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan instansi terkait lainnya akan terus diperkuat guna menjaga pertumbuhan ekonomi DIY," ujar Sri Darmadi Sudibyo.
Baca juga: Menkeu meyakini kucuran stimulus bakal dukung pertumbuhan akhir tahun
