Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dindukcapil) Kota Yogyakarta mengundang sekitar 50 ribu warga yang belum melakukan aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD) untuk mempercepat capaian layanan tersebut.
Kepala Dindukcapil Kota Yogyakarta Septi Sri Rezeki di Yogyakarta, Senin, menjelaskan undangan itu dijadwalkan pada 10-30 November 2025 dengan membawa KTP-el/kartu keluarga dan telepon genggam.
"Di luar dugaan, yang datang luar biasa. Kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi warga Kota Yogya. Ternyata dengan undangan mereka merasa diperhatikan dan mau hadir," ujar Septi.
Septi mencontohkan, pada pekan lalu hampir 600 orang mengakses layanan aktivasi IKD dan perekaman data KTP elektronik (KTP-el) di Kantor Dindukcapil Kota Yogyakarta.
Menurut dia, sekitar 50 ribu warga diundang berdasarkan skala prioritas wilayah, dengan jumlah warga belum aktivasi IKD terbanyak berasal dari Kemantren atau Kecamatan Umbulharjo.
"Masyarakat bebas mau datang kapan ke Dindukcapil Kota Yogyakarta. Masyarakat harus membawa undangan agar lebih percaya ini bukan hoaks (penipuan)," ucap dia.
Septi menyampaikan bahwa pemerintah pusat menargetkan aktivasi IKD di Kota Yogyakarta mencapai 30 persen melalui beberapa tahap. Untuk tahun 2025, targetnya adalah 10 persen dari jumlah penduduk pemilik KTP-el.
Berdasar data terakhir, menurut dia, capaian aktivasi IKD di Kota Yogyakarta berada di angka sekitar 9,95 persen.
Upaya percepatan tersebut, kata dia, juga dilakukan agar manfaat IKD dapat dirasakan masyarakat secara lebih luas.
"Ini (undangan aktivasi IKD) juga untuk mewaspadai penipuan berkedok aktivasi IKD. Kegiatan aktivasi IKD ini tidak dilakukan secara 'online', tidak dapat diwakilkan dan tidak dipungut biaya, jadi gratis," kata Septi.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan dan Pemanfaatan Data Dindukcapil Kota Yogyakarta Dyah Intan Usaratri mengingatkan masyarakat mewaspadai penipuan yang mengatasnamakan Dindukcapil Kota Yogyakarta, terutama terkait layanan aktivasi IKD.
Intan mengaku namanya pernah dipakai pihak tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan.
"Kami imbau masyarakat ketika ada WA (Whatsapps) atau telepon dari nomor yang tidak dikenal mohon hati-hati. Yang sering terjadi itu banyak yang ditelepon mengaku pegawai Dindukcapil (melakukan penipuan). Tolong tidak menerima begitu saja WA dan telpon yang tidak dikenal," ujar Intan.
