Jakarta (ANTARA) - Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan kurs rupiah melemah seiring penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS).
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, memicu kekhawatiran geopolitik yang menekan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Mengutip Sputnik, pada Sabtu (3/1), Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS telah melancarkan serangan besar ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, serta pemindahan keduanya ke luar negeri.
Sejumlah media melaporkan adanya ledakan di Caracas dan mengaitkan operasi tersebut dengan unit Delta Force AS.
Harian The New York Times melaporkan sedikitnya 4.800 orang tewas, termasuk personel militer dan warga sipil.
Anadolu menerangkan bahwa Venezuela dalam kendali AS untuk sementara waktu, termasuk dengan mengerahkan pasukan AS jika diperlukan, sebagaimana arahan Trump.
Maduro dan istrinya tiba di New York pada Sabtu (3/1) malam dan kini ditahan di Metropolitan Detention Center, Brooklyn.
Keduanya menghadapi dakwaan federal di Amerika Serikat terkait perdagangan narkoba serta dugaan kerja sama dengan kelompok kriminal yang ditetapkan sebagai organisasi teroris. Maduro membantah seluruh tuduhan tersebut.
Lukman menilai isu tidak akan terlalu lama dan signifikan menjadi sentimen yang melemahkan nilai tukar rupiah.
“Menurut saya, pasar paling tidak hanya bereaksi sesaat,” ujar dia.
Berdasarkan faktor tersebut, kurs rupiah diprediksi berkisar Rp16.650-Rp16.800 per dolar AS.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Rupiah diprediksi melemah seiring penangkapan Presiden Venezuela
