Jakarta (ANTARA) - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang menyatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa menggunakan protein selain telur untuk mengantisipasi kenaikan harga, misalnya dengan ikan.
“Untuk mengantisipasi kenaikan harga telur, akan diganti dengan ikan, kami imbau untuk mengganti proteinnya dengan yang lain,” katanya saat meninjau pemberian MBG di SMK Negeri 1 Jakarta, Kamis.
Nanik juga mengemukakan, jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berkat program MBG terus bertambah hingga 19.800-an unit per Januari 2026.
“Jadi per hari ini, per jam ini, ada orang yang bekerja langsung di SPPG sekitar 900 ribu orang, itu yang bekerja langsung di dapur, di tiap SPPG yang beroperasi tadi. Lalu untuk pekerja yang tidak langsung, ada 1,5 juta orang juga mulai bekerja,” ujar dia.
Tahun ini, BGN mencatat telah melayani lebih dari 55 juta penerima manfaat MBG mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga anak sekolah mulai dari jenjang PAUD-SMA.
“Dari 6 juta penerima manfaat, kita melesat ke 55,1 juta. Ini tidak terduga karena luar biasa peran serta masyarakat, para mitra yang membangun dapur. Kalau dibangun sendiri oleh pemerintah tentu mengeluarkan investasi puluhan triliun,” tuturnya.
Sepanjang tahun 2025, BGN mencatat telah membangun 19.188 SPPG yang tersebar di seluruh Indonesia dengan penerima manfaat mencapai 55,1 juta orang mencakup siswa sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Kepala BGN Dadan Hindayana menargetkan 82,9 juta penerima manfaat dapat tercapai pada Februari 2026.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat untuk memperbaiki layanan MBG agar sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan petunjuk teknis, sebanyak 4.535 SPPG telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BGN: Antisipasi kenaikan harga telur, MBG bisa gunakan protein lain
