Jakarta (ANTARA) - Proklamasi swasembada beras 2025 yang dikumandangkan pada puncak perayaan Natal 2025, menandai sebuah tonggak penting dalam perjalanan pangan Indonesia.
Meski waktu pengumumannya sedikit bergeser dari rencana awal yang pernah disampaikan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, pergeseran itu lebih bersifat teknis dan sama sekali tidak mengurangi substansi pencapaian yang telah diraih.
Bahkan, jika dicermati secara jujur dan berbasis data, tanpa proklamasi pun sesungguhnya capaian swasembada beras telah terwujud.
Fakta-fakta di lapangan menunjukkan bahwa Indonesia telah berhasil keluar dari ketergantungan struktural pada impor beras yang selama puluhan tahun menjadi bayang-bayang kebijakan pangan nasional.
Data Badan Pusat Statistik mencatat produksi beras nasional pada 2025 diperkirakan mencapai 34,77 juta ton. Angka ini bukan sekadar statistik tahunan, melainkan refleksi dari peningkatan produktivitas yang nyata di tingkat petani.
Produksi yang melampaui target tersebut memberi dampak berlapis, bukan hanya pada ketersediaan pangan, tetapi juga pada penguatan cadangan beras pemerintah.
Cadangan Beras Pemerintah yang mencapai sekitar 3,2 juta ton merupakan catatan historis yang patut diperhitungkan.
Selama bertahun-tahun, Perum Bulog umumnya hanya mengelola cadangan di bawah 2 juta ton, sehingga posisi cadangan di atas 3 juta ton menjadi simbol ketahanan pangan yang jauh lebih kokoh dibandingkan masa lalu.
Baca juga: Bulog pecahkan rekor penyerapan gabah hingga kawal swasembada
Keberhasilan ini semakin bermakna ketika diiringi dengan keputusan menghentikan impor beras medium sepanjang 2025.
Kebijakan tersebut mencerminkan keberanian politik pangan yang tidak sederhana, mengingat Indonesia pada 2024 masih mengimpor sekitar 4,5 juta ton beras dari berbagai negara produsen utama seperti Thailand, Vietnam, dan India.
Penghentian impor beras medium bukan hanya berdampak domestik, tetapi juga memberi efek pada pasar global. Harga beras dunia tercatat mengalami penurunan sekitar 42 persen, sebuah fenomena yang kemudian mendapat apresiasi dari Badan Pangan Dunia FAO.
