Mendikdasmen pastikan anggaran tambahan pendidikan tidak untuk MBG

id anggaran belanja tambahan,ABT,anggaran tambahan pendidikan,pendidikan,MBG,Makan Bergizi Gratis

Mendikdasmen pastikan anggaran tambahan pendidikan tidak untuk MBG

Sejumlah pelajar menunjukkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didapat di SD Negeri Krembangan Selatan VII, Surabaya, Jawa Timur, Senin (23/2/2026). Siswa di sekolah itu menerima MBG paket kering yang dapat dibawa pulang berupa roti, telur rebus, kacang goreng dan buah jeruk selama bulan Ramadhan 1447 Hijriah. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/YU

Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti memastikan pengajuan Anggaran Belanja Tambahan (ABT) sebesar Rp181 triliun ke DPR tidak untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Pengajuan ABT Kememdikdasmen ini bukan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kami sudah paparan di DPR soal ABT ini dan saat ini sedang dalam posisi menunggu keputusan," kata Mu'ti dalam keterangan resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN) di Jakarta, Rabu.

Usai Rapat Koordinasi Penyelenggaraan Program MBG di Semarang, Jawa Tengah, pada Selasa (3/3), Mu'ti menjelaskan ABT adalah permintaan alokasi tambahan dalam APBN tahun berjalan yang bersifat mendesak.

Meskipun demikian, Mendikdasmen mengatakan bahwa Program MBG merupakan bagian tak terpisahkan dari program Kemendikdasmen, utamanya yang berkaitan dengan Tujuh Kebiasaan Indonesia Hebat, yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, rajin belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.

MBG, menurutnya, juga bagian dari program pendidikan karakter yang merupakan program prioritas nasional, yang terdiri atas penanaman nilai-nilai spiritual, sosial, tertib, disiplin, bertanggung jawab, kepemimpinan, budaya bersih, tata krama, dan sebagainya.

"Jadi, MBG memiliki kaitan yang sangat langsung dengan program Kemendikdasmen," ucap Mu’ti.

Ia juga menyampaikan, menurut laporan terakhir Sekretariat Jenderal Kemendikdasmen, penerima MBG saat ini sebanyak 49.614.433 siswa, dari total 53.394.088 siswa sekolah, atau telah mencapai 93 persen dari total siswa di seluruh Indonesia, sedangkan yang belum menerima sebanyak 3.780.445 siswa.

Sementara itu, sekolah yang sudah menerima sebanyak 288.845 dari total 434.812 satuan pendidikan, atau 66,5 persen dari sekolah di Indonesia.

"Jadi, capaiannya sudah sangat tinggi," tuturnya.

Kemendikdasmen juga telah mendapatkan temuan menarik tentang kontribusi Program MBG terhadap pendidikan karakter dan motivasi belajar siswa. Dari kerja sama penelitian dengan Lab Sosio Universitas Indonesia, ditemukan bahwa Program MBG membantu murid untuk mendapatkan pangan bergizi, khususnya kelompok sosial-ekonomi rendah.

MBG juga memberikan pengalaman yang menyenangkan dari produk maupun makan bersama dan lebih semangat dalam belajar. Selain itu, ragam menunya juga sangat disukai dan dirasakan manfaatnya oleh siswa.

"Oleh karena itu, program ini diharapkan berkelanjutan dan ditingkatkan kualitasnya" tuturnya.

Adapun untuk ABT, program pertama yang diajukan Mendikdasmen yakni anggaran untuk program revitalisasi 20 ribu satuan pendidikan karena saat ini masih banyak yang dalam kondisi rusak dan cukup memprihatinkan.

Program kedua yakni digitalisasi pendidikan, di mana setiap satuan pendidikan akan mendapat tambahan alokasi IFP (Interactive Flat Panel) atau Panel Interaktif Digital (PID). Rencananya, di tahun 2026 ini, Kemendikdasmen akan mendistribusikan IFP untuk lebih dari 325 ribu satuan pendidikan.

Program lain yang sudah disetujui DPR adalah program beasiswa untuk guru yang belum meraih jenjang pendidikan Diploma 4 (D4) atau Strata 1 (S1) sebesar Rp3 juta per semester.

Guru honorer juga mendapatkan perhatian dari pemerintah. Dalam usulan ABT yang telah diajukan oleh Kemendikdasmen ke DPR itu guru honorer akan mendapatkan tambahan insentif dari Rp300 ribu menjadi Rp400 ribu.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Mendikdasmen pastikan anggaran tambahan pendidikan tidak untuk MBG

Pewarta :
Editor: Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.