Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan adanya risiko kenaikan penyebaran kasus campak menjelang musim libur Lebaran mendatang karena meningkatnya mobilitas maupun aktivitas berkumpul masyarakat.
Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengatakan pola peningkatan kasus campak dalam beberapa tahun terakhir berkaitan erat dengan periode libur panjang, yang memicu aktivitas berkumpul masyarakat.
“Kami perhatikan di sini ada hubungan antara kejadian kasus ini dengan adanya perayaan-perayaan yang bersifat berkumpul. Kami lihat tren selama 5 tahun terakhir. Kasus cenderung mulai meningkat pada awal tahun, ya, kemudian menurun begitu, dan kemudian akan naik lagi pada sekitar bulan Agustus, September, Oktober, November,” kata Andi dalam Konferensi Pers Update Kasus Campak di Indonesia yang diselenggarakan secara daring di Kota Jakarta pada Jumat.
Lebih lanjut, ia menerangkan tren kasus campak sebenarnya mulai menunjukkan penurunan hingga minggu ke-8 tahun ini.
Namun demikian, pihaknya mengingatkan akan potensi peningkatan yang tetap perlu diwaspadai, terutama saat periode libur panjang.
“Jika ada balita atau seseorang yang menderita suspek seperti demam kemudian ada ruam campak, itu maka ada baiknya tidak ke mana-mana dulu. Apalagi ini mau libur lebaran, kemungkinan orang-orang untuk kumpul bersama itu besar,” imbuhnya.
Pihaknya mencatat ada sebanyak 10.453 suspek campak di sepanjang tahun 2026, dengan penambahan 506 suspek terjadi pada minggu ke-8 apabila dibandingkan dengan minggu sebelumnya.
Karena itu, ia pun kembali mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan anggota keluarga ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala campak, serta mengurangi kontak dengan individu sehat.
“Apabila ada anggota keluarga, anak sakit, maka segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. Kurangi kontak dengan orang sehat untuk mencegah penularan,” ujarnya.
Selain itu, ia pun mengimbau individu agar tidak melakukan aktivitas berkumpul atau berkerumun apabila memiliki tanda maupun gejala terindikasi campak.
Individu dengan gejala demam maupun ruam kemerahan, kata dia, sebaiknya menghindari kontak dengan individu sehat dan segera melakukan isolasi mandiri di rumah.
“Khusus kepada individu yang memiliki gejala demam, ada tanda-tanda suspek campak, seperti ruam, kemerahan, sebaiknya tidak kumpul-kumpul, kemudian tidak pergi ke tempat-tempat, termasuk tidak pergi ke tempat-tempat wisata dan juga ke tempat-tempat keramaian lainnya, sebaiknya di rumah saja seperti begitu,” tegas Andi.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kemenkes ingatkan risiko kenaikan kasuscampak jelang libur Lebaran
