Yogyakarta (ANTARA) - Bantuan pangan yang disalurkan ke wilayah terdampak bencana banjir bandang di Sumatera, terutama di Aceh Tamiang, dinilai kurang memperhatikan kebutuhan gizi anak-anak, karena sebagian besar bantuan berupa makanan instan, seperti mie instan, dan produk kental manis.
Hal itu disampaikan Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Budi Setiawan dan menurutnya bantuan yang didominasi makanan praktis siap saji ini berisiko menimbulkan dampak buruk jangka panjang terhadap kesehatan anak.
“Kami melihat langsung di Aceh Tamiang, bantuan yang banyak datang itu mie instan dan makanan praktis lain. Kalau itu terus-menerus dikonsumsi, tentu kurang sehat untuk anak-anak,” ujar Budi Setiawan.
Ia menambahkan bahwa kondisi ini diperparah dengan adanya persepsi keliru di masyarakat yang menganggap produk seperti kental manis sebagai pengganti susu, padahal kandungan susunya sangat minim. Pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi anak dapat berisiko menyebabkan gangguan kesehatan, seperti kerusakan gigi dan meningkatnya risiko penyakit tidak menular, termasuk diabetes.
Selain itu, Budi Setiawan menyoroti masalah distribusi bantuan yang seragam dan tidak memperhatikan perbedaan kebutuhan gizi antara anak-anak dan orang dewasa. Makanan yang disalurkan cenderung bersifat sama untuk semua kelompok, padahal balita memiliki kebutuhan gizi yang sangat berbeda dari orang dewasa.
Budi juga mengungkapkan keterbatasan fasilitas dasar di lokasi bencana, seperti alat masak, yang memaksa banyak keluarga mengandalkan makanan instan yang tersedia.
MDMC berupaya mengatasi masalah ini dengan mendirikan pos pelayanan terpisah untuk balita, lansia, dan kelompok rentan lainnya. Meskipun sudah dilakukan pendataan terpisah, Budi Setiawan mengakui bahwa upaya ini masih belum dapat menjangkau semua kebutuhan di lapangan.
Budi mengharapkan agar kualitas bantuan pangan lebih diperhatikan, bukan hanya kuantitasnya. Bantuan yang lebih memerhatikan gizi kelompok rentan seperti balita sangat diperlukan untuk mencegah dampak buruk jangka panjang terhadap kesehatan anak-anak yang terdampak bencana.
"Kalau bantuan diseragamkan dan hanya fokus ke yang praktis, anak-anak akan terus terpapar makanan yang tidak sesuai. Ini yang perlu dipikirkan bersama,” kata Budi.
