Logo Header Antaranews Jogja

Perdoski: Penularan HPV bisa terjadi secara seksual dan nonseksual

Selasa, 21 April 2026 23:17 WIB
Image Print
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Perdoski), Dr. dr. Hanny Nilasari, Sp.D.V.E, Subsp. Ven, FINSDV, FAADV, dalam acara kesehatan bersama MSD Indonesia, di Jakarta, Selasa (21/4/2026). ANTARA/Sri Dewi Larasati

Jakarta (ANTARA) - Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Perdoski) dr. Hanny Nilasari menekankan bahwa virus human papillomavirus (HPV) bisa menular baik secara kontak seksual maupun nonseksual.

“Transmisi virus HPV bisa melalui kontak langsung dan juga kontak seksual. Artinya kontak kulit dengan kulit dan juga kontak seksual,” kata Dr. dr. Hanny Nilasari, Sp.D.V.E, Subsp. Ven, FINSDV, FAADV, dalam acara kesehatan bersama MSD Indonesia, di Jakarta, Selasa.

Virus HPV merupakan suatu infeksi yang bisa menjadi penyakit mengenai kulit dan kelamin. Kondisi ini ditandai seperti munculnya daging tumbuh di kulit yang menyerupai kembang kol pada area genital, umumnya tidak nyeri, ukurannya kecil sehingga sulit terlihat, bentuknya bisa bervariasi halus dan kasar, dan bisa muncul satu atau beberapa.

Hanny juga menyampaikan tanda kutil kelamin yang perlu diwaspadai berupa benjolannya tidak hilang sendiri, melainkan makin besar dan jumlahnya bertambah, disertai perubahan seperti mudah berdarah dan infeksi.

“Di area mulut itu sering juga terjadi, benjolannya sama seperti itu tadi, permukaannya bisa halus atau berbenjol-benjol dan bisa menimbulkan suatu gejala misalnya perubahan suara atau sakit tenggorokan. Ini kadang yang diabaikan oleh pasien,” tutur dia.

Sementara itu penularan virus HPV, lanjut Hanny, transmisinya melalui kontak seksual seperti hubungan senggama (genito-genital), menggunakan tangan (manogenital), atau secara oral.

Sementara itu, rute penularan virus HPV juga bisa terjadi pada aktivitas non-seksual, seperti penularan dari ibu ke bayi saat proses persalinan normal (pervaginam).

“Pada ekstra genital ternyata perantara objek atau fomite, kemudian inokulasi mandiri, infeksi di rumah sakit, ini juga bisa menyebabkan infeksi HPV bisa terjadi pada diri kita,” imbuh dia.

Lebih lanjut, Hanny menyampaikan bahwa faktor risiko terkena infeksi HPV bisa berkembang menjadi lesi lebih berat umumnya berkaitan dengan kondisi sistem kekebalan tubuh, baik imunitas lokal maupun secara sistemik, misalnya pada seseorang dengan usia lebih tua memiliki imunitasnya sudah mulai menurun.

"Akan ada perubahan sifat virusnya sehingga menjadi lebih lekat di area kulitnya dan kemudian akan terjadi suatu perubahan sel. Begitu juga merokok, konsumsi alkohol, seks oral, dan banyaknya hubungan seks sesama jenis. Ini faktor risiko yang memang banyak sekali teridentifikasi pada saat ketemu seorang dengan infeksi HPV,” ujar dia.



Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026