Logo Header Antaranews Jogja

Bupati Gunungkidul usulkan Nyadran Gunung Gentong masuk kalender pariwisata

Selasa, 2 Juni 2026 20:07 WIB
Image Print
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih (dua kiri) saat mengikuti tradisi Nyadran Gunung Gentong di Kapanewon Gedangsari, Gunungkidul, Selasa (2/6). ANTARA/HO-Pemkab Gunungkidul

Yogyakarta (ANTARA) - Bupati Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Endah Subekti Kuntariningsih mengusulkan agar upacara adat tradisi Nyadran Gunung Gentong di Kapanewon Gedangsari, Gunungkidul, bisa masuk dalam kegiatan rutin kalender pariwisata agar gaungnya semakin luas terdengar untuk meningkatkan sektor pariwisata.

"Kepala Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata bisa berkolaborasi menjadikan Nyadran Gunung Gentong sebagai agenda rutin dalam kalender acara pariwisata," kata Bupati Endah di Yogyakarta, Selasa.

Menurutnya, Nyadran Gunung Gentong yang diadakan pada Selasa (2/6) ini telah menjadi tradisi tahunan turun-temurun masyarakat Kapanewon Gedangsari yang telah dilestarikan sejak lama di lokasi yang konon menjadi petilasan dari Prabu Brawijaya V.

"Penting untuk menjaga Petilasan Prabu Brawijaya V sebagai pengingat sejarah adiluhung Gunungkidul," katanya.

Ia menyebut tradisi Nyadran Gunung Gentong merupakan bagian dari warisan budaya yang telah diakui dunia melalui UNESCO dan masyarakat Gunungkidul patut mempertahankan kelestarian tradisi tersebut.

“Agar acara ini memiliki publikasi yang luas, sehingga mampu menarik wisatawan religi untuk menggerakkan ekonomi UMKM di Dusun Manggung dan sekitarnya,” kata Bupati Endah.

Dalam kesempatan tersebut ia mengutip pesan dari Bung Karno yakni Jasmerah (Jangan sekali-kali melupakan sejarah) sebagai fondasi masyarakat untuk kembali ke kepribadian bangsa Indonesia melalui pelestarian budaya.

"Nyadran ini diharapkan kerukunan antarwarga tetap terjaga dan warisan leluhur dapat terus dilestarikan demi masa depan yang lebih baik," kata dia.

Sementara itu Lurah Ngalang, Gedangsari, Suharyanto menambahkan acara Nyadran Gunung Gentong sarat nilai sejarah dan budaya itu merupakan tradisi turun-temurun yang telah ada sejak zaman Prabu Brawijaya.

Selain itu, lanjutnya, beberapa tahun terakhir pihaknya berupaya menyelaraskan unsur budaya dengan nilai-nilai agama dalam tradisi tersebut.

“Rangkaian acara dimulai pada Senin malam dengan kegiatan mujahadah di Masjid Dusun Manggung, yang kemudian dilanjutkan dengan tirakatan di lokasi petilasan Gunung Gentong hingga puncak acara pada Selasa siang," kata Suharyanto.

Ia menjelaskan tradisi tersebut juga tidak bisa dipisahkan dari ritual khusus di Sumur Kawak yang dirayakan dengan pemberian sesaji, tumpeng, ingkung, dan jajanan pasar oleh masyarakat.

"Itu didoakan bersama untuk keberkahan masyarakat," katanya.



Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026