SMKN Pundong Bantul memasang alat detektor banjir di tepi Sungai Oya
Rabu, 1 November 2023 16:53 WIB
Dua pelajar Kelas XI jurusan Teknik Elektronika SMKN 1 Pundong, didampingi Kepala sekolah memasang alat EWS detektor banjir di tepi Sungai Oya, wilayah Pedukuhan Pengkol, Sriharjo, Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Rabu (1/11/2023). (ANTARA/Hery Sidik)
Bantul (ANTARA) - Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Pundong, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta memasang alat sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) detektor banjir karya pelajar sekolah tersebut, di tepi Sungai Oya Pedukuhan Pengkol, Kelurahan Sriharjo, Imogiri.
"EWS detektor banjir karya siswa SMKN 1 Pundong yang kami pasang di Dusun Pengkol ini bentuk dedikasi siswa kami yang memiliki pengetahuan dan kompetensi membuat alat deteksi," kata Kepala SMKN 1 Pundong Sutopo usai pemasangan EWS detektor banjir di Bantul, Rabu.
Menurut dia, alat detektor banjir tersebut dihibahkan kepada masyarakat Pedukuhan Pengkol, dengan harapan ketika ada kejadian banjir akibat luapan Sungai Oya saat musim hujan nanti bisa ada peringatan dini bagi warga, sehingga dapat menyelamatkan warga.
"Jadi, kami melihat lokasi sini sebagai pemasangan EWS detektor banjir, karena wilayah Pedukuhan Pengkol merupakan salah satu lokasi yang terdampak banjir pada tahun 2017 akibat badai cempaka," katanya.
Dia mengatakan pemasangan EWS detektor banjir di wilayah tersebut juga untuk mengakomodasi permintaan dari masyarakat yang berada di sekitar Sungai Oya, guna mengantisipasi apabila ada kejadian lagi, dapat diminimalkan dampak kerusakan maupun korban.
"Ini yang pertama, dulu ada permintaan dari warga, kemudian kami membuat ide, dan detektor banjir ini berbeda dengan detektor banjir yang dipasang di tempat lain, ini lebih simpel, lebih mudah perawatannya dan biaya pembuatan lebih kecil, serta tahan lama," katanya.
Lebih lanjut, dia mengatakan hingga saat ini sudah ada tiga alat detektor kejadian bencana yang SMKN 1 Pundong pasang, yang pertama EWS banjir di Kedung Jati Selopamioro Imogiri, kemudian EWS deteksi tanah longsor yang dipasang di Kelurahan Seloharjo Pundong.
"Sedangkan yang ketiga kami pasang EWS deteksi banjir di Pengkol Sriharjo Imogiri. Untuk SMKN 1 Pundong, kami merawat setiap tahun sebelum tiba musim hujan, jadi seperti sekarang ini kami menurunkan tim untuk melakukan perawatan di EWS yang kami pasang," katanya.
Dia mengatakan EWS detektor banjir karya Ikhwan Sidik dan Evan Setiawan Pratama Kelas XI jurusan Teknik Elektronika SMKN 1 Pundong tersebut dibuat selama sekitar satu bulan dengan pendampingan guru pembimbing, untuk biaya pembuatannya sekitar Rp15 juta sampai Rp20 juta.
"Sistem kerjanya dipasang dua mode, alarm yang pertama masih peringatan, artinya air yang datang belum membahayakan, tetapi mode yang kedua apabila alarm yang berbunyi lebih keras dan lebih cepat itu sudah peringatan warga harus sudah evakuasi," katanya.
"EWS detektor banjir karya siswa SMKN 1 Pundong yang kami pasang di Dusun Pengkol ini bentuk dedikasi siswa kami yang memiliki pengetahuan dan kompetensi membuat alat deteksi," kata Kepala SMKN 1 Pundong Sutopo usai pemasangan EWS detektor banjir di Bantul, Rabu.
Menurut dia, alat detektor banjir tersebut dihibahkan kepada masyarakat Pedukuhan Pengkol, dengan harapan ketika ada kejadian banjir akibat luapan Sungai Oya saat musim hujan nanti bisa ada peringatan dini bagi warga, sehingga dapat menyelamatkan warga.
"Jadi, kami melihat lokasi sini sebagai pemasangan EWS detektor banjir, karena wilayah Pedukuhan Pengkol merupakan salah satu lokasi yang terdampak banjir pada tahun 2017 akibat badai cempaka," katanya.
Dia mengatakan pemasangan EWS detektor banjir di wilayah tersebut juga untuk mengakomodasi permintaan dari masyarakat yang berada di sekitar Sungai Oya, guna mengantisipasi apabila ada kejadian lagi, dapat diminimalkan dampak kerusakan maupun korban.
"Ini yang pertama, dulu ada permintaan dari warga, kemudian kami membuat ide, dan detektor banjir ini berbeda dengan detektor banjir yang dipasang di tempat lain, ini lebih simpel, lebih mudah perawatannya dan biaya pembuatan lebih kecil, serta tahan lama," katanya.
Lebih lanjut, dia mengatakan hingga saat ini sudah ada tiga alat detektor kejadian bencana yang SMKN 1 Pundong pasang, yang pertama EWS banjir di Kedung Jati Selopamioro Imogiri, kemudian EWS deteksi tanah longsor yang dipasang di Kelurahan Seloharjo Pundong.
"Sedangkan yang ketiga kami pasang EWS deteksi banjir di Pengkol Sriharjo Imogiri. Untuk SMKN 1 Pundong, kami merawat setiap tahun sebelum tiba musim hujan, jadi seperti sekarang ini kami menurunkan tim untuk melakukan perawatan di EWS yang kami pasang," katanya.
Dia mengatakan EWS detektor banjir karya Ikhwan Sidik dan Evan Setiawan Pratama Kelas XI jurusan Teknik Elektronika SMKN 1 Pundong tersebut dibuat selama sekitar satu bulan dengan pendampingan guru pembimbing, untuk biaya pembuatannya sekitar Rp15 juta sampai Rp20 juta.
"Sistem kerjanya dipasang dua mode, alarm yang pertama masih peringatan, artinya air yang datang belum membahayakan, tetapi mode yang kedua apabila alarm yang berbunyi lebih keras dan lebih cepat itu sudah peringatan warga harus sudah evakuasi," katanya.
Pewarta : Hery Sidik
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Bank Jateng dan SMKN 1 Surakarta berikan pengalaman nyata literasi keuangan
12 October 2025 19:02 WIB
Presiden Jokowi kirim mobil listrik praktikum ke SMKN 1 Rangas, Sulbar
26 April 2024 14:03 WIB, 2024
SMKN 2 Kandangan, Kalsel-R Tech College Bangkok pertukaran guru-pelajar
27 March 2024 6:02 WIB, 2024
Pemkab Bantul ajak forum BKK SMK belajar praktik baik di SMKN 1 Bandung
06 February 2024 16:03 WIB, 2024
Bupati Gunungkidul ajak siswa SMKN Wonosari gunakan media sosial dengan baik
15 January 2024 14:06 WIB, 2024
Kirab budaya SMKN Pundong Bantul memperkuat karakter pelajar Pancasila
19 November 2023 12:45 WIB, 2023
Terpopuler - Bantul
Lihat Juga
Rekrutmen terbuka, tahapan seleksi penerimaan tenaga pendukung Aksea Reforma Agraria
22 April 2026 23:46 WIB
Pemkab Bantul berdayakan wanita tani optimalkan pekarangan untuk hortikultura
16 April 2026 21:31 WIB