Jogja (ANTARA Jogja) - Biologi sintetik membawa aspirasi memproduksi organisme baru dengan fungsi yang dapat dikontrol melalui proses yang terkontrol, kata Ketua Komisi Bioetika Nasional Umar Anggara Jenie.
"Biologi sintetik merupakan aktivitas bidang penelitian yang relatif baru, yang bertujuan untuk mengkombinasikan unsur-unsur dalam biologi molekul, kimia, sains, dan rekayasa komputer," katanya di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Selasa.
Menurut dia pada forum diskusi Bioetika, yang mendasari biologi sintetik adalah munculnya gagasan bahwa organisme dapat dibangun kembali atau dirancang dalam cara yang terkontrol untuk tujuan khusus.
"Biologi sintetik merupakan cara untuk menciptakan sistem kehidupan, yang sebelumnya tidak terdapat dalam alam," ucap Umar yang juga anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI).
Contohnya, sel-sel dan proses metabolismenya didesain dan disusun dengan cara sedemikian rupa untuk mampu memberikan fungsi-fungsi baru. Cara itu mirip dengan yang dikerjakan oleh "genetic engineer" atau para "breeder" masa lampau.
Selain itu, menciptakan bentuk-bentuk kehidupan baru menggunakan komponen-komponen DNA standar, yang dikenal dengan Lego Model.
Ia mengatakan beberapa potensi dari penerapan biologi sintetik antara lain di bidang bioenergi (sel dapat direkayasa untuk mengubah produk terbarukan menjadi energi), bidang produksi obat (bakteria sintetik untuk produksi obat seperti artemisnin atau atorvastatin).
Selain itu, di bidang produksi material (sel-sel rekombinan dapat didesain untuk membuat prekursor kimia untuk produksi plastik atau tekstil), bidang kedokteran (sel-sel diprogram untuk tujuan terapetik.
Di bidang militer (biologi sintetik dapat digunakan untuk pengembangan atau melawan senjata biologik) dan bidang teknologi lingkungan (sintesis bakteria pengabsorsi CO2 dapat dikembangkan).
"Namun demikian, pusat penelitian yang melakukan aktivitasnya dengan menggunakan makhluk hidup di antaranya Pusat Studi Bioteknologi UGM diimbau untk secara proaktif melakukan kajian etika penelitiannya," papar Umar.
Forum diskusi Bioetika itu diselenggarakan Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar (IPD) AIPI bekerja sama dengan Pusat Studi Bioteknologi UGM dan Sekolah Pascasarjana UGM.
(L.B015)
