Kulon Progo (Antara Jogja) - Anggota Komisi II DPRD Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Suharmanto mengapresiasi Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak menangani kerusakan Talang Bowong Kalibawang sehingga tidak mengganggu musim tanam kedua di lahan 7.152 hektare.
Suharmanto di Kulon Progo, Jumat, mengatakan kerusakan Talang Bowong mengancam lahan pertanian di lima kecamatan yakni Kalibawang, Samigaluh, Sentolo, Nanggulan, dan Pengasih.
"Saat ini, air sudah mengalir sejak awal Februari. Kami sangat mengapresiasi kinerja BBWSSO, Dinas Pekerjan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUP-KP) dan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) sehingga kerusakan Talang Bowong tidak menyebabkan gagal tanam dan gagal panen," kata Suharmanto.
Ia berharap Talang Bowong dipindah ke lokasi lain, mengingat kondisi tanah yang labil dan setiap mengancam talang. Seperti diketahui bersama, saluran irigas Kalibawang merupakan jantungnya sektor pertanian di Kulon Progo.
"Kami berharap BBWSSO membuat perencanaan yang matang untuk saluran irigasi di Kulon Progo," harap politisi PKS daerah pemilihan (Dapil) Kokap-Pengasih ini.
Selain itu, ia mengusulkan supaya BBWSSO membangun jaringan irigasi baru di luar Irigasi Kalibawang dan Bendungan Sapon. Sehingga, lahan marginal dapat dimanfaatkan sebagai sawah. Hal ini mengingat, lahan pertanian akan banyak yang mengalami alih fungsi seiring pembangunan bandara.
"Masih banyak lahan pertanian yang belum mendapat aliran air karena keterbatasan jaringan irigasi yang sampai lahan milik petani. Kami minta pemkab memetakan potensi, dan minta BBWSSO membangun jaringan irigasi," katanya.
Kepala DPP Kulon Progo Bambang Tri Budi mengharapkan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak memperbaiki infrastruktur sektor pertanian dari normalisasi saluran sungai dan irigasi.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kulon Progo Bambang Tri Budi di Kulon Progo, Minggu, mengatakan anggaran "multi years" Rp250 miliar setiap tahun yang dimiliki Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) dialokasikan untuk perbaikan infrastruktur pertanian di Kulon Progo.
"Kami sangat berharap anggaran multi years dapat membantu normalisasi sungai-sungai dan irigasi di Kulon Progo," kata Bambang.
Ia mengakui beberapa tahun terakhir, lahan tanaman padi di Kulon Progo selalu terendam air sehingga menyababkan produktivitas padi turun drastis. Lahan tanaman padi yang terendam paling parah di Kecamatan Galur, Lendah, Panjatan, Temon, Wates dan Sentolo.
"Kecamatan ini merupakan lumbung padi di Kulon Progo. Kami hanya bisa pasrah kalau hujan deras dengan intensitas tinggi dan lama, dipastikan irigasi dan sungai yang mengalami pendangkalan menyebabkan lahan tanaman padi atau hortikultura dipastikan terendam air. Luasnya ribuan hektare," kata Bambang. ***1***
(U.KR-STR)
