SPS gelar bincang sastra "Mendengar Nyanyian Kardus"

id Taman budaya yogyakarta

Yogyakarta, (Antara Jogja) - Studio Pertunjukan Sastra bekerja sama dengan Dewan Teater Yogyakarta dan Taman Budaya Yogyakarta, menggelar Bincang-Bincang Sastra edisi 140 dengan mengusung tajuk "Mendengar Nyanyian Kardus".

"Dalam acara yang akan berlangsung pada 21 Mei pukul 20.00 WIB di Taman Budaya Yogyakarta ini akan diluncurkan buku naskah drama `Nyanyian Kardus` karya Puntung C.M. Pudjadi," kata koordinator acara Agus Sandiko di Yogyakarta, Rabu.

Dia menjelaskan topik perbincangan tersebut akan diulas oleh Indra Tranggono dan Puntung C.M. Pudjadi. Dalam acara itu juga akan tampil Dewan Teater Yogyakarta.

"Puntung C.M. Pudjadi merupakan salah satu penulis naskah drama terkemuka Yogyakarta. Reputasi Puntung sebagai sutradara dan penulis lakon drama, sinetron, maupun film sudah diakui," katanya.

Ia mengatakan tidak kurang 35 naskah drama telah ditulisnya. Puntung juga telah menyutradarai lebih dari 60 pemanggungan. Puluhan bahkan ratusan cerita sinetron telah ditulisnya.

"Sebagaimana prediksi Ragil Suwarna Pragolapati, bakat Puntung justru lebih kuat pada penulisan naskah drama ketimbang menjadi aktor panggung. Selebihnya, ia adalah seorang sutradara drama," katanya.

Agus mengatakan bermula dari nyantrik di sanggar Teater Alam yang bermarkas di Sawojajar 25 dari 1974 hingga 1982, Puntung menggeluti dunia teater. Di Teater Alam, Puntung memiliki tugas utama yakni mengetik menggandakan naskah drama yang akan dipentaskan.

"Pengalaman mengetik dan menyunting naskah drama di Teater Alam itulah proses pergulatannya dengan naskah drama dimulai, meski pada waktu itu ia belum menulis naskah drama sendiri," katanya.

Pengalaman di Teater Alam itu kemudian dicurahkan untuk membentuk kelompok baru, yakni Teater Shima pada pertengahan 1980-an. Naskah drama karyanya kemudian banyak dipentaskan oleh Teater Shima Yogyakarta. Pada saat itu, Puntung juga mengikuti lokakarya penulisan naskah skenario yang diselenggarakan TVRI.

"Sejak saat itu Puntung mulai serius menulis naskah skenario. Pada 1990 ia pun hijrah ke Jakarta untuk menulis naskah-naskah skenario sinetron dan serial di TVRI dan PH televisi swasta. Sayang, naskah skenario yang tidak terhitung jumlahnya itu tidak didokumentasikan dengan baik," katanya.

Naskah drama yang telah dibuat oleh Puntung acapkali dipentaskan untuk tugas akhir mahasiswa dan pentas produksi kelompok teater di kampus-kampus.

"Yang cukup sering dipentaskah salah satunya ialah Los Bagados de Los Pencos. Sialnya, dalam naskah ini justru tertera nama W.S. Rendra sebagai penulisnya, bukan Puntung C.M. Pudjadi," ungkap Agus Sandiko.

Puntung, kata dia, banyak memotret kehidupan rakyat kecil, pinggiran, yang hidupnya terkucil-singkirkan oleh kerasnya kehidupan.

Naskah "Nyanyian Kardus" yang akan diulas itu, misalnya berkisah mengenai kehidupan rakyat kecil dengan kemiskinan material yang akut cenderung menghasilkan kemiskinan spiritual, hidup sebagaimana arus sungai yang keruh membentur batu dan kerikil tajam, terempas tak putus-putus.

"Kehidupan masyarakat pinggiran di kota besar dipotret oleh Puntung sebagai gambaran sisi lain dunia. Dengan bahasa yang lugas dialog-dialog yang disusunnya pas untuk panggung, tidak terasa kaku, tidak terdramatisir, dan tidak terdengar aneh di telinga," ujarnya.

Kini, bersama Dewan Teater Yogyakarta, ia banyak menggelar pementasan, naskah terbaru yang akan dipentaskan pada 2017 ialah Durga dan Para Bajubarat.

"Mari kita nantikan kiprahnya sebagai penulis naskah drama dan sutradara teater," katanya. ***4***

(V001)