Penambangan pasir tidak terpengaruh peningkatan aktivitas Gunung Merapi

id Penambangan pasir Merapi

Aktivitas penambangan pasir di Sungai Gendol, Kaliadem, Kepuharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman. (Foto Antara/Victorianus Sat Pranyoto)

Sleman (Antaranews Jogja) - Kegiatan penambangan pasir di dekat hulu Sungai Gendol Desa Kepuharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman masih terus berlangsung meski dalam beberapa hari terakhir semakin sering terjadi  guguran lava dan awan panas di Gunung Merapi.

"Sampai saat ini kegiatan penambangan masih berlangsung, kalau rasa takut memang ada juga. Tetapi saya kan tetap harus bekerja untuk menafkahi keluarga," kata Gudel (36) penambangan pasir di kawasan penambangan milik CV Lestari di Dusun Kaliadem, Kepuharjo, Cangkringan, Selasa.

Menurut warga Dusun Manggong, Kepuharjo Cangkringan tersebut lokasi penambangan hanya berjarak sekitar empat kilometer dari puncak Gunung Merapi.
     
"Kalau jarak aman rekomendasi dari BPPTKG kan tiga kilometer dari puncak. Selama ini jarak luncuran guguran lava Merapi paling jauh juga sekitar 1,5 kilometer. Semoga saja tidak melebihi tiga kilometer," katanya.

Ia mengatakan, sebagian besar warga di lereng Merapi memang menggantungkan hidupnya dari hasil tambang, namun hasil dan risiko yang didapat sebenarnya tidak sebanding.

"Hasilnya hanya cukup untuk beberapa hari, kalau tidak menambang malah tidak dapat apa-apa," katanya.
     
Sedangkan seorang pengemudi truk angkutan pasir Eko Wahyu (21) warga Karanganyar, Klaten, Jawa Tengah mengaku was-was dengan aktivitas Merapi saat ini.
     
"Sebenarnya was-was juga dengan kondisi  saat ini, namun mau bagaimana lagi, pasir yang bagus hanya di Merapi," katanya.
     
Hal sama juga dikatakan pengemudi truk pasir lainnya Brian Kurnia Jati warga Selomartani, Kalasan Sleman yang mengaku sudah tidak berani mengambil pasir di atas (hulu sungai).
     
"Kalau ambil pasir di atas (Kaliadem), sudah tidak berani. Masih trauma dengan kejadian banjir lahar hujan beberapa tahun lalu yang hampir saja menerjang saya saat mengambil pasir," katanya.
     
Ia mengatakan, dirinya memilih mengambil pasir di sejumlah depo daripada mengambil risiko naik ke atas Sungai Gendol.
     
"Kejadian di Merapi kan tidak bisa dipastikan, sewaktu-waktu apapun bisa terjadi," katanya.
     
Kepala Seksi Mitigasi Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman Joko Lelono mengatakan pihaknya telah memasang "early warning system" (EWS) sebanyak 20 unit di alur Sungai Gendol.
       
"Ada 20 unit EWS di lereng Merapi, jaraknya setiap dua kilometer," katanya.
     
Joko mengatakan, untuk bisa membunyikan EWS tidak bisa sembarangan karena ada prosedurnya.
     
"Seperti banjir lahar hujan, itu tidak bisa kalau puncak hujan langsung dibunyikan, dilihat dulu potensinya sampai bawah tidak," katanya.
     
Ia mengatakan, BPBD Sleman tetap mengingatkan kepada masyarakat yang beraktivitas di Sungai Gendol agar berhati-hati ketika terjadi hujan.
     
"Sebab bajir lahar hujan potensinya tetap ada," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar