Produsen herbal meraup keuntungan di tengah pandemi

id empon-empon,biofarmaka,Kulon Progo,UMKM,IKM,Disperindag Kulon Progo

Produsen herbal  meraup keuntungan di tengah pandemi

Kelompok Wanita Tani Lestari Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengolah empon-empon menjadi produk biofarmaka. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Kulon Progo (ANTARA) - Empon-empon pada masa pandem COVID-19 kini menjadi barang mahal dan banyak dicari masyarakat. Dulu komodtias ini hanya dipandang sebelah mata, namun sekarang menjadi incaran konsumen untuk diolah menjadi produk herbal atau biofarmaka.

Sebelum pandemi COVID-19, harga empon-empon di tingkat petani sangat rendah. Contohnya harga jahe Rp10 ribu per kilogram, jahe merah  Rp18 ribu per kilogram, dan empon-empon lain berkisar Rp8 ribu per kilogram.

Namun, saat ini harga empon-empon berkisar Rp24 ribu sampai Rp34 ribu per kilogram. Kenaikan harga empon-empon tidak lepas dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari di Kecamatan Pengasih, kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang mengolah empon-empon menjadi produk herbal
.
Empon-empon diolah menjadi produk herbal hingga jamu herbal yang banyak dicari pada masa pandemi COVID-19. Empon-empon hingga produk turunannya dipercayai masyarakat memiliki khasiat untuk memperlancar peredaran darah, menjaga daya tahan tubuh, dan menjaga stamina. 

KWT Lestari yang diketuai Siti Rupingah ini memproduksi berbagai jenis jamu herbal. Bermodal resep tradisional keluarga, ia membuat inovasi agar jamu dapat lebih diterima semua khalayak umum. Pada 1998, dirinya bersama KWT Lestari mengolah jahe dan kunir menjadi minuman bubuk yang disukai masyarakat. 

Saat ini, KWT Lestari mampu menghasilkan berbagai produk herbal mulai produk gula kristal jahe madu, gula krital jahe merah, kunir putih, temu lawak, beras kencur, bunga telon, wedang rempah, wedang uwuh sari jampi, dan simplesia kering, sedangkan minuman yang siap diminum berupa beras kencur, kenyit asam, dan wedang rempah. Pasar produk KWT Lestari dikirim ke Jakarta, Bal, Kalimantan, dan pasar lokal.

Di pasar lokal, produk KWT Lestari dipasarkan bekerja  sama dengan kedai kopi, warung hingga Toko Milik Rakyat (TomiRa), bahkan dijual secara daring untuk pemasaran luar daerah. Permintaan produk jamu herbal dan minuman herbal ini sangat tinggi sehingga membuat kelompoknya kewalahan memenuhi permintaan.

Harga produk satu bungkus wedang uwuh sendiri dijual Rp3.500, namun kalau dikirim ke luar daerah bisa mencapai Rp6.000 hingga Rp7.000  per bungkus karena ada biaya pengiriman dan biaya lain, sedangkan gula kristal Rp17 ribu sampai Rp21 ribu untuk isi 250 gram atau satu botol kecil, minuman cair kunyit asam dan beras kencur Rp7.000 per botol isi 500 mililiter.

Usaha sari jampi yang dikerjakan KWT Lestari ini memberdayakan belasan kelompok wanita tani di Kabupaten Kulon Progo, yakni dengan  memberdayakan ibu-ibu rumah tangg menyediakan bahan baku dan membantu memasarkan produk, kata Ketua KWT Lestari Siti Rupingah.
Kelompok Wanita Tani Lestari Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengolah empon-empon menjadi produk biofarmaka. (Foto ANTARA/Sutarmi)


Dukungan anggaran

Produk herbal atau jamu tradisional ini mendapat perhatian  Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dengan cara mendorong pelestarian produk herbal dan produk tradisional berbahan baku lokal. Untuk menggerakkan ekonomi masyarakat, maka. Pemda DIY memberikan dukungan dana keistimewaan bagi industri kecil dan menengah berbahan empon-empon untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) pembuatan empon-empon ini mendapat bantuan dana keistimewaan DIY agar maju, kata Kepala Disperindag Kulon Progo Iffah Mufidati.

Pada masa pandemi COVID-19 menyadarkan masyarakat bahwa produk empon-empon telah menjadi primadona. Pelaku IKM yang menggeluti produk empon-empon produksinya meningkat pesat karena permintaan empon-empon dalam kemasan sangat tinggi. Permintaan datang dari berbagai daerah dan pasar internasional. Bahkan, masyarakat yang akan membeli produk ini telah memesan jauh hari.

Hal ini menjadi perhatian Pemda DIY dan Pemkab Kulon Progo untuk mendorong pelaku IKM mempertahankan produksi dan kualitas produk berbahan baku empon-empon. Saat ini, pangsa pasar empon-empon terbuka lebar. KWT Lestari Pengasih mampu menangkap peluang pasar ini. Mereka mampu menghasilkam berbagai jenis produk herbal yang banyak diminati pasar.

Disperindag Kulon Progo terlibat dalam melakukan promosi produk ini agar pemasaran meluas, bahkan memberikan pelatihan
pelaku industri kecil dan menengah mengolah potensi lokal untuk diproduksi agar memiliki nilai jual tinggi dan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat.

Pemkab memberikan pelatihan pemanfaatan bahan baku produk yang bisa dipromosikan dan laku untuk mendukung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur. Masyarakat harus siap menyambut Bukit Menoreh sebagai pusat wisata baru. Potensi di Bukit Menoreh sangat banyak, seperti empon-empon, teh, kopi, bunga krisan, durian, kelengkeng hingga minyak atsiri. Bahan baku lokal itu  dapat dimanfaatkan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat di kawasan Bukit Menoreh, yakni Kecamatan Kokap, Samigaluh, Kalibawang, Nanggulan, dan Girimulyo.

Dengan adanya KSPN Borobudur, pemkab  mulai mempersiakan sumber daya manusia (SDM) dari sisi keterampilan agar masyarakat tidak  hanya menjadi penonton saat wisata Bukit Menoreh menjadi tujuan utama wisata.

Selain itu, pemkab akan mendampingi masyarakat Jatimulyo dan Girimulyo mengembangkan kawasan usaha rakyat untuk komoditas empon-empon, yakni mengajari masyarakat membuat jamu, cara pengemasan, dan penjualan. Tujuan pengembangan industri kecil empon-empon untuk menggerakan ekonomi masyarakat dan mendukung pariwisata. Nantinya pelaku IKM dapat menjual jamu mereka di objek-objek wisata yang dikembangkan masyarakat.

 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar