UMY gagas Desa Wisata Zero Waste di Bantul

id desa wisata,Desa Wisata Zero Waste,pengelolaan sampah

UMY gagas Desa Wisata Zero Waste di Bantul

Tim Pengabdian Masyarakat UMY menggagas Desa Wisata Zero Waste di Dewi Kajii, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.ANTARA/HO-UMY

Yogyakarta (ANTARA) - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggagas Desa Wisata Zero Waste di Dewi Kajii, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai model pengelolaan sampah berkelanjutan.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UMY Ratih Herningtyas dalam keterangannya di Yogyakarta, Minggu, menargetkan inovasi itu berkembang menjadi model pengelolaan sampah terpadu bagi desa wisata lain.

"Desa wisata harus tetap menjadi sumber ekonomi tanpa menambah beban lingkungan. Inovasi pengelolaan sampah berbasis edukasi dan komunitas adalah kuncinya," ujar dia.

Melalui program BIMA (Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat), pendekatan "zero waste" ini dirancang tidak sekadar kampanye sesaat, melainkan budaya baru yang berkelanjutan.

Baca juga: Bantul tuntaskan pembangunan hanggar pengolahan sampah ITF Pasar Niten

Dengan dukungan akademisi, komunitas, dan tokoh agama, Desa Wisata Dewi Kajii diharapkan menjadi contoh nyata bahwa sampah bukan lagi ancaman, melainkan berkah bagi masyarakat.

Sebagai bagian dari program tersebut, UMY bersama masyarakat setempat menggelar seminar bertema 'Mengubah Sampah Menjadi Berkah: Edukasi, Ekonomi, dan Lingkungan".

Seminar itu menghadirkan pendiri Gerakan Sedekah Sampah, Ananto Isworo, yang akrab disapa Ustadz Sampah sekaligus penerima penghargaan Kalpataru dari Pemerintah DIY.

Baca juga: DLH Bantul edukasi masyarakat tidak buang sampah ke tempat pengolahan ilegal

Dalam pemaparannya, Ananto menekankan pentingnya perubahan pola pikir sejak rumah tangga. "Delapan puluh persen persoalan sampah selesai jika ada kesadaran bersama. Keluarga adalah titik awal," kata dia.

Ia juga menjelaskan perbedaan antara bank sampah dan sedekah sampah. Menurutnya, sedekah sampah tidak hanya memberi nilai ekonomi, tetapi juga berdampak sosial karena hasilnya dialokasikan untuk kegiatan kemanusiaan.

Salah satu peserta, Rini Sutriasih, mengaku mendapat perspektif baru.

"Saya sadar sekarang bahwa sampah bisa jadi sarana ibadah sekaligus pemberdayaan ekonomi. Dari rumah, saya akan mulai membiasakan anak-anak memilah sampah dan mengurangi plastik sekali pakai," ujarnya.

Baca juga: Pemkab Bantul mewajibkan setiap ASN membuat resapan biopori di rumah

Baca juga: DLH Bantul fokus penyelesaian pembangunan hanggar ITF sampah Niten

Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.