Mendes PDTT menerima gelar doktor honoris causa dari UNY
Sabtu, 11 Juli 2020 17:09 WIB
Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof Sutrisna Wibawa memindahkan kucir toga saat penganugerahan gelar doktor honoris causa (HC) Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar di Auditorium UNY, Sabtu. (FOTO ANTARA/HO/Humas UNY)
Yogyakarta (ANTARA) - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar menerima gelar doktor honoris causa (HC) dalam bidang Manajemen Pemberdayaan Masyarakat dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Yogyakarta, Sabtu.
Rapat Senat Terbuka Penganugerahan gelar doktor HC untuk Abdul Halim berlangsung di Gedung Auditorium UNY.
Dalam penganugerahan itu, Mendes Halim menyampaikan pidato ilmiah berjudul "Kebijakan Strategis Pemberdayaan Masyarakat Menuju Kemandirian Desa".
"Kebijakan desa yang berkualitas perlu disusun berbasis data dan masukan pemanfaat kebijakan itu sendiri," kata dia.
Sejak pekan pertama penugasan sebagai Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Halim mengaku langsung melakukan pembenahan berkaitan dengan data dan informasi desa.
Agar dapat dikomunikasikan sampai tataran global, Sistem informasi Desa (SID) dikelompokkan ke dalam 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
"Masukan dari pemanfaat kebijakan desa terangkum dalam aduan warga. Dilandasi hikmah selama di pesantren, saya mengajak birokrat untuk memperlakukan aduan masyarakat sebagai amanah Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi," kata dia.
Ia mengatakan seluruh aduan harus ditanggapi dan ditindaklanjuti, ibarat petugas customer service (CS) saat melayani pelanggan.
Masukan rutin tiap desa, kata dia, juga dikumpulkan oleh 19.000 pendamping lokal desa, 16.000 pendamping desa di kecamatan, dan 1.000 pendamping tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan nasional.
"Saya sudah merancang pelatihan kapasitas pendamping, terutama peningkatan kapasitas untuk mencatat dan melaporkan kondisi desa, perubahan harian tiap desa, dan menghubungkan desa dengan pihak lain yang dibutuhkan desa itu sendiri," kata dia.
Menurut dia, untuk mendukung desa meraih rebound ekonomi tahun depan, Kemendes PDTT sedang menyiapkan peraturan menteri tentang prioritas penggunaan Dana Desa Tahun 2020.
Berbasis data dan informasi yang telah dikumpulkan dari tingkat desa, menurut dia, Dana Desa akan digunakan secara terfokus penyediaan prasarana pada daerah yang belum berlistrik dan belum berinternet.
"Berdasarkan potensi tiap desa, prioritas penggunaan Dana Desa bagi desa-desa lainnya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan menjalankan produksi ekonomi. Seluruh prioritas penggunaan Dana Desa 2020 diarahkan untuk memenuhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan," kata dia.
Menurut Rektor UNY Prof Sutrisna Wibawa, penganugerahan gelar ini semakin mengukuhkan sinergi antara perguruan tinggi dengan Kementerian Desa PDTT.
"Desa yang kuat akan menguatkan Indonesia," katanya.
Menurut Sutrisna, sebuah keyakinan yang terus dikuatkan Abdul Halim Iskandar dalam praksis kebijakannya layak untuk dianugerahi gelar doktor honoris causa bidang manajemen pemberdayaan masyarakat.
"Paradigma ini menjadi semakin penting, terlebih di tengah pandemi corona yang sedang dihadapi. Kunci kesuksesan desa ada pada pemerintah desa berserta segenap masyarakat desa yang bahu membahu menyejahterakan desa dan bangsanya," kata dia.
Menurut dia, program desa untuk warga bertujuan untuk memberdayakan warga melalui organisasi desa sehingga maju.
"UNY juga telah menginisiasi kampus desa, baik secara fisik maupun pendampingan pada desa, yaitu dengan membuka program vokasi di Kulonprogo dan Gunungkidul," kata Sutrisna.
Rapat Senat Terbuka Penganugerahan gelar doktor HC untuk Abdul Halim berlangsung di Gedung Auditorium UNY.
Dalam penganugerahan itu, Mendes Halim menyampaikan pidato ilmiah berjudul "Kebijakan Strategis Pemberdayaan Masyarakat Menuju Kemandirian Desa".
"Kebijakan desa yang berkualitas perlu disusun berbasis data dan masukan pemanfaat kebijakan itu sendiri," kata dia.
Sejak pekan pertama penugasan sebagai Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Halim mengaku langsung melakukan pembenahan berkaitan dengan data dan informasi desa.
Agar dapat dikomunikasikan sampai tataran global, Sistem informasi Desa (SID) dikelompokkan ke dalam 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
"Masukan dari pemanfaat kebijakan desa terangkum dalam aduan warga. Dilandasi hikmah selama di pesantren, saya mengajak birokrat untuk memperlakukan aduan masyarakat sebagai amanah Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi," kata dia.
Ia mengatakan seluruh aduan harus ditanggapi dan ditindaklanjuti, ibarat petugas customer service (CS) saat melayani pelanggan.
Masukan rutin tiap desa, kata dia, juga dikumpulkan oleh 19.000 pendamping lokal desa, 16.000 pendamping desa di kecamatan, dan 1.000 pendamping tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan nasional.
"Saya sudah merancang pelatihan kapasitas pendamping, terutama peningkatan kapasitas untuk mencatat dan melaporkan kondisi desa, perubahan harian tiap desa, dan menghubungkan desa dengan pihak lain yang dibutuhkan desa itu sendiri," kata dia.
Menurut dia, untuk mendukung desa meraih rebound ekonomi tahun depan, Kemendes PDTT sedang menyiapkan peraturan menteri tentang prioritas penggunaan Dana Desa Tahun 2020.
Berbasis data dan informasi yang telah dikumpulkan dari tingkat desa, menurut dia, Dana Desa akan digunakan secara terfokus penyediaan prasarana pada daerah yang belum berlistrik dan belum berinternet.
"Berdasarkan potensi tiap desa, prioritas penggunaan Dana Desa bagi desa-desa lainnya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan menjalankan produksi ekonomi. Seluruh prioritas penggunaan Dana Desa 2020 diarahkan untuk memenuhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan," kata dia.
Menurut Rektor UNY Prof Sutrisna Wibawa, penganugerahan gelar ini semakin mengukuhkan sinergi antara perguruan tinggi dengan Kementerian Desa PDTT.
"Desa yang kuat akan menguatkan Indonesia," katanya.
Menurut Sutrisna, sebuah keyakinan yang terus dikuatkan Abdul Halim Iskandar dalam praksis kebijakannya layak untuk dianugerahi gelar doktor honoris causa bidang manajemen pemberdayaan masyarakat.
"Paradigma ini menjadi semakin penting, terlebih di tengah pandemi corona yang sedang dihadapi. Kunci kesuksesan desa ada pada pemerintah desa berserta segenap masyarakat desa yang bahu membahu menyejahterakan desa dan bangsanya," kata dia.
Menurut dia, program desa untuk warga bertujuan untuk memberdayakan warga melalui organisasi desa sehingga maju.
"UNY juga telah menginisiasi kampus desa, baik secara fisik maupun pendampingan pada desa, yaitu dengan membuka program vokasi di Kulonprogo dan Gunungkidul," kata Sutrisna.
Pewarta : Luqman Hakim
Editor : Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kemenkeu sebut dana Desa 2025 diprioritaskan untuk tangani perubahan iklim
27 September 2024 12:58 WIB, 2024
Pemerintah puji kemajuan Desa Wisata Ketapanrame, Jatim, gaet wisatawan
19 August 2024 10:20 WIB, 2024
Pemerintah ungkap aspek kultural menjadi identitas pendamping desa di Indonesia
19 August 2024 10:14 WIB, 2024
Pemerintah: Masa depan daerah di Indonesia ditentukan generasi muda berpendidikan-terampil
05 August 2024 13:46 WIB, 2024
Kemendes: Lomba Desa Wisata Nusantara 2024 ajang promosi pariwisata gaet pelancong
01 August 2024 17:42 WIB, 2024
Pemerintah: Penguatan kompetensi vokasi bantu kurangi kemiskinan di tanah air
29 July 2024 14:16 WIB, 2024
Mendes: Pendamping desa di Indonesia harus representasikan budaya-kultur lokal
29 July 2024 11:30 WIB, 2024
Bakar Batu di Papua Pegunungan jadi warisan nenek moyang simbol perdamaian
18 July 2024 13:42 WIB, 2024