Kediri (ANTARA Jogja) - Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan puntung rokok diduga sering menjadi pemicu utama kebakaran hutan, sehingga kebiasaan itu harus diubah.
"Kemarau panjang ini budaya seperti membuang puntung rokok harus diubah. Musim kemarau kejadian kebakaran terus menerus terjadi," katanya saat meninjau pembuatan rokok di PT Gudang Garam, Tbk Kediri, Sabtu.
Ia mengatakan, aksi membuang puntung rokok itu diduga menjadi penyebab utama banyaknya kejadian kebakaran di kawasan hutan. Masyarakat membuang puntung rokok, tanpa peduli efeknya, yang bahkan memicu terjadinya kebakaran hutan.
Selain membuang puntung rokok sembarangan, kebakaran hutan juga bisa terjadi akibat pembukaan lahan baru. Para petani membuka kawasan pertanian baru, sehingga mereka membakar kawasan hutan.
Padahal, efeknya bukan hanya menganggu pernafasan, melainkan semakin minimnya sumber mata air. Pohon-pohon hutan yang diharapkan dapat menyerap air, sudah tidak mampu lagi, karena pohon banyak ditebang.
Akibatnya, saat kemarau sumber mata air semakin kering, sementara saat hujan banjir melanda, walaupun di sejumlah pulau lain seperti Jawa sedang berlangsung kemarau.
Kajian komprehensif berdasarkan citra satelit yang dipublikasikan Environmental Research Letters menyebutkan pertumbuhan hutan yang berusia tua di Sumatra menyusut sekitar 40 persen dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, sementara secara keseluruhan hutan di Indonesia sudah musnah sekitar 36 persen.
Kajian yang dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh Belinda Arunarwati Margono dari South Dakota State University dan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, menemukan fakta yang mengerikan dari hutan Sumatra yang dulu sangat lebat.
Secara umum, Sumatra telah kehilangan 7,5 juta hektare hutan antara 1990 hingga 2010, dan sekitar 2,6 juta hektare di antaranya adalah hutan primer. Sebagian besar hutan yang hilang adalah hutan sekunder yang habis akibat penebangan liar. Hanya 8 persen hutan "perawan" yang tersisa di Sumatra.
Selain membahas angka kehilangan hutan, kajian ini juga meneliti seputar faktor pendorong hilangnya hutan dan degradasi hutan. Dalam penelitian ini antara tahun 1950-an hingga 1960-an, ekspansi pertanian untuk areal persawahan dan penebangan hutan skala kecil untuk ditanami kopi dan karet adalah penyebab utama hilangnya hutan.
Di era 1970-an hingga 1990-an, operasi perusahaan kayu skala besar dan hutan tanaman industri menjadi faktor yang dominan, sementara program transmigrasi yang didorong pemerintah serta kebakaran hutan antara tahun 1982 hingga 1983 menjadi faktor sekunder. Setelah era 90-an, perkebunan sawit dan pulp and paper menjadi ancaman utama deforestasi, sementara penebangan liar menjadi penyebab utama degradasi hutan.
Menhut juga menegaskan, saat ini pemerintah terus berupaya untuk melakukan reboisasi. Tanah yang masih belum ditanami tanaman baru, saat ini terus ditanami. Diharapkan, pohon yang sudah ditanam itu akan tumbuh, sehingga bisa menggantikan tanaman lainnya.
Pihaknya mengaku terus melakukan pembinaan pada masyarakat. Namun, ia juga meminta partisipasi aktif dari pemerintah daerah untuk ikut mengawasi kawasan hutan. Pemerintah daerah juga mempunyai kontribusi langsung, demi kelangsungan masa depan hutan di Indonesia.
(T.pso-130)
