Kampung Giriloyo proyek percontohan sentra batik tulis

id batik tulis

Kampung Giriloyo proyek percontohan sentra batik tulis

Seorang perajin batik sedang menyelesaikan batik tulis di sentra kerajinan batik Dusun Giriliyo, Desa Wukirasri, Bantul, Yogakarta. (Foto Antara/Deni Priyatin/ags/15)

Bantul  (Antaranews Jogja) - Kampung batik Giriloyo, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi proyek percontohan sentra kerajinan batik tulis pewarna alami di wilayah provinsi setempat.
    
"Sementara ini kita masih menggunakan ikon Imogiri, yaitu kampung Giriloyo Bantul sebagai 'pilot project' batik tulisnya," kata Kepala Bidang Kerajinan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY Polin Napitupulu di Bantul, Sabtu.
    
Menurut dia, di DIY yang meliputi empat kabupaten dan satu kota, sebenarnya ada sentra kerajinan batik selain di Bantul, misalnya Gunung Kidul, tetapi Imogiri Bantul dinilai lebih tepat karena batik tulis pewarna alami menjadi ciri khas.
    
Ia mengatakan, sebagai upaya menggaungkan batik tulis Giriloyo menjadi proyek percontohan, maka Dekranasda DIY bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan batik akan mengadakan 'workshop' batik tulis dengan pewarnaan alami.
    
"Workshop akan dilaksanakan di Gazebo Kampung Batik Giriloyo dan di tiga lokasi IKM (industri kecil menengah) batik Giriloyo, yaitu Sri Kuncoro, Sekar Arum dan Berkah Lestari. Workshop akan digelar pada 5 dan 6 Oktober," katanya.
    
Menurut dia, workshop tersebut merupakan bagian dari serangkaian kegiatan Jogja International Batik Biennale (JIBB) 2018, sebuah event dua tahunan yang diadakan DIY guna melestarian batik sebagai warisan budaya Indonesia.
    
Polin menjelaskan, perlunya proyek percontohan batik tulis agar terus berkembang di Yogyakarta itu karena sesuai fakta bahwa prosentase batik tulis dengan pewarna alami dengan pewarna kimia masih 10 persen banding 90 persen.
    
"Pewarnaan itu bisa kimia, bisa pewarnaan alami, dan kita sedang mengejar ke salah satu item yang ada unsur 'ekological'nya itu dan itu nanti lambat laun diharapkan semua termasuk para IKM batik itu menggunakan warna alami," katanya.
    
Menurut dia, pewarna alami untuk membatik itu bisa dibuat dengan bentuk pasta, 'powder' maupun cair, namun yang paling membutuhkan proses dan ketelitian adalah berbentuk cair karena harus mengolah atau merebus bahan.
    
"Itu sangat ribet, makanya kalau sudah ada satu sentra yang khusus membuat warna alami saya pikir pembatik kita tidak bingung membuat warna alami, apalagi ada satu IKM yang menyetor ke para pembatik, jadi yang batik urusi batik yang warna urusi warna," katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar