Pasar Semin Gunung Kidul tempat transaksi lintas daerah (VIDEO)

id Badingah

Bupati Gunung Kidul Badingah (Foto Antara)

Gunung Kidul (ANTARA) - Pasar Semin di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi pasar rakyat tempat transaksi lintas daerah di dua provinsi DIY dan Jawa Tengah, sehingga perputaran uang berlangsung cepat dan pertumbuhan ekonomi terus meningkat.

Bupati Gunung Kidul Badingah di Gunung Kidul, Jumat, mengatakan Pasar Semin menjadi salah satu prioritas pembangunan di wilayah Gunung Kidul.

"Pasar Semin yang berada di perbatasan dengan Jawa Tengah ini tidak hanya dimanfaatkan oleh masyarakat lokal namun luar daerah," katanya. Pasar Semin memiliki letak strategis yang ada di wilayah perbatasan antara Jawa Tengah dan DIY, yakni Kecamatan Semin, Kabupaten Gunung Kidul (DIY) berbatasan dengan Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah).

Bagi warga di Kecamatan Semin, Pasar Semin memiliki nama lain, yakni Pasar Mlambang. Pasar ini menempati lahan seluas 9.936 meter, dengan jumlah pedagang sebanyak 439 orang.erputaran uang di Pasar Semin cukup tinggi.

Pasar Semin juga mampu meningkatkan perekonomian, karena tergolong modern. Saat ini, Pemkab Gunung Kidul menggencarkan slogan “Pasar Rapi Bakule Mukti” diharapkan mampu bersaing dengan pasar modern.

"Kami berupaya menggerakan ekonomi masyarakat melalui modernisasi pasar rakyat, supaya masyarakat berbelanja ke pasar," kata Badingah.

Seperti diketahui, pada 2013, Pasar Semin habis terbakar. Pemkab secara bertahap melalukan perbaikan Pasar Semin dengan menggunakan APBD I, APBD II dan dana alokasi khusus (DAK).

Dana awal untuk membangun kembali pasar yang berbatasan dengan Klaten ini pada  2013 sebesar Rp800 juta. Pembangunan berlanjut pada 2014 dengan dana Rp1,6 miliar, 2015 dengan dana Rp 5,5 miliar, bahkan dalam tahun yang sama melalui dana pembantuan dikucurkan lagi dana Rp5 miliar.

Sementara itu,  Kepala Seksi Sarana Prasarana, Bidang Pengelolaan Pasar, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Gunung Kidul Sukarman mengatakan jumlah pedagang di Pasar Semin terus bertambah.

Hal ini terlihat banyak pedagang yang berjualan di luar pasar atau tidak masuk dalam los dan kios. Saat ini, Disperindag sedang melakukan pendataan supaya dapat dilakukan penataan, sehingga Pasar Semin lebih tertata.

Ia mengatakan pedagang yang berberjualan di Pasar Semin berasal dari Kabupaten Gunung Kidul, Klaten (Jawa Tengah), Wonogiri (Jawa Tengah) dan ada juga dari Prambanan (Sleman).

"Pasar Semin ini lokasinya di perbatasan. Di sana juga dilewati jalur wisata yang berasal dari Jawa Tengah. Pasar ini posisinya sangat strategis, baik untuk perekonomian di Gunung Kidul, Wonogiri, dan Klaten," katanya.

Salah satu pedagang Pasar Semin, Riyanti mengatakan hari pasaran di Pasar Semin, yakni Pon dan Kliwon. Pada hari pasaran ini, seluruh los, dan kios di Pasar Semin terisi penuh oleh pedagang dari berbagai daerah. Pedagang  berasal dari sekitar Semin, Bayat, Boyolali, Pedan, Klaten, dan Tawangmangu.

Pedagang mulai berjualan dari 02.00 WIB sampai 08.00 WIB. Pasar Semin menjadi pasar untuk tengkulan pedagang sayur keliling. Terkadang, pedagang sudah mulai berjualan dari 00.00 WIB.

"Di luar hari pasaran Pon dan Kliwon, jumlah pedagang sedikit, dan banyak los dan kios yang tidak terpakai dan tutup," katanya.

Riyanti mengaku sayur yang dijual di Pasar Semin berasal dari Boyolali dan Tawangmangu (Jawa Tengah). Harga sayuran di sini cukup bersaing, bahkan lebih murah dibandingkan di Pasar Argosari di Wonosari.

"Harga sayur lebih murah, sehingga Pasar Semin menjadi pasar untuk belanja pedagang sayur keliling dari berbagai wilayah," katanya.

Makanan tradisional grontol
Makanan tradisional grontol di Pasar Semin, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tetap eksis dan tidak pernah ditinggalkan oleh masyarakat, meski sudah memasuki era milenial. 

Salah satu pedagang makanan tradisional grontol Pasar Semin, Semi mengatakan dirinya sudah berjualan grontol, meniran dan apem atau serabi yang berbahan baku jagung sejak 50 tahun lalu atau sejak dirinya masih sangat muda hingga saat ini yang sudah beranjak usia 60 tahun.

"Semua laku, masyarakat masih banyak yang membeli," katanya.

Dirinya setiap hari mampu menjual tiga kilogram grontol, dua kilogram meniran, dan puluhan serabi. Harga yang ditawarkan cukup murah. Satu plastik ukuran kecil grontol hanya Rp2.000, begitu juga dengan meniran. Sedangkan kue ampen jagung atau serabi jagung, ia jual Rp2.000 dapat tiga.

Semi menuturkan membuat grontol sangatlah mudah, biji jagung direndam didalam air kapur sirih, kemudian direbus hingga matang atau sekitar tiga jam dengan menggunakan kayu bakar. Setelah matang, kulit ari jagung dibersihkan, kemudian direbus lagi. Untuk menambah rasa gurih grontol, Semi menambahkan garam dan parutan kelapa secukupnya. "Pembuatan grontol membutuhkan waktu banyak untuk memaksannya hingga siap dijual. Tapi saya sudah  menjalankan pekerjaan ini sejak 50 tahun lalu hingga saat ini," katanya.

Kemudian, pembuatan meniran jagung juga sangat mudah. Biji jagung direndam air selama tiga hingga lima jam supaya mudah ditumbuk. Setelah direndam, jagung ditumbuk halus menggunakan alat tumbuk yang diberi nama lumpang. Jagung ditumbuk sampai setengah halus.

Setelah ditumbuh setengah halus, meniran jagung dimasak dengan cara dikukus hingga satu jam. Untuk menambah rasa gurih, meniran ditambah dengan garam dan parutan kelapa.

"Saya membuat meniran dilakukan secara tradisional. Kalau menggunakan mesin giling, hasilnya tidak bagus, rasanya juga hambar," katanya.


Ikan dari berbagai daerah

Penjual ikan di Pasar Semin, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengambil ikan untuk dijual lagi dari berbagai daerah supaya konsumen bisa memilih ikan sesuai kemampuan keuangan.

Salah satu pedagang ikan Pasar Semin Narwan mengatakakan dirinya mampu menjual ikan segar sebanyak 70 hingga 90 kilogram dengan berbagai variasi harga, tergantung pasokan ikan berasal. Pasokan ikan dari Tulung Agung (Jawa Timur), Pantai Sadeng (Gunung Kidul), Pacitan (Jawa Timur), Semarang (Jawa Tengah). "Harga ikan lebih murah dari Tulung Agung karena ikan hasil budi daya, sedangkan yang mahal dari Pantai Sadeng karena ikan hasil tangkapan dari laut," katanya.

Ia mengaku dirinya berjualan dari 02.00 WIB sampai 08.00 WIB. Pedagang sayur keliling belanjanya sejak dini hari, kalau jualanya siang sudah tidak ada yang beli. "Saya pulang paling siang 08.00 WIB. Di atas jam tersebut sudah sepi, tidak ada yang beli atau belanja," katanya.

 
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar