Sri Muslimatun, dari bidan hingga menjadi wakil bupati Sleman

id Wabup Sleman

Sri Muslimatun, dari bidan hingga menjadi wakil bupati Sleman

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun (Foto Humas Sleman)

Sleman (ANTARA) - Wakil Bupati Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Muslimatun adalah sosok yang telah puluhan tahun berkecimpung dalam dunia kesehatan, terutama di bidang kebidanan.

Dilansir dari laman srimuslimatun.com, Minggu, Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun telah menggeluti dunia kesehatan sejak usia 23 tahun.

Karir di dunia kesehatan diawali pada 1976, ia telah mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk menggeluti dunia kesehatan, yaitu sebagai tenaga honorer di RSU Bethesda Yogyakarta.

Lima tahun kemudian, tepatnya pada 1981, ia menduduki jabatan fungsional di RSUP Dr. Sardjito selama 28 tahun. Usai mengemban tugasnya di RSUP Dr. Sardjito, Sri Muslimatun selanjutnya mencurahkan pikiran dan tenaganya di RSIA Sakina Idaman sebagai Direktur dan selang dua tahun kemudian ia didapuk sebagai Ketua Yayasan Rumah Sakit (RS) tersebut.

Ibu dari tiga putera, yakni dr H Nur Muhammad Artha, Msc, M. Kes, dr H Nizar Hero Kartika, M. Kes dan Hernita Syifa Damayanti, ini mengatakan kunci keberhasilan pelayanan kesehatan adalah ketersediaan tenaga kesehatan yang sesuai kompetensi, serta sarana dan prasarana yang handal di fasilitas pe|ayanan kesehatan.

"Dalam hal pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, bidan sebagai garda terdepan pemberi pelayanan kesehatan di tingkat dasar, harus mampu mendeteksi masalah dan komplikasi pada masa kehamilan, persalinan dan bayi baru Iahir," kata Sri Muslimatun.

Ia mengatakan, angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Indonesia masih tertinggi di antara negara ASEAN.

"Berdasarkan Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), AKI dari 307/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2002, turun menjadi 228/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 kemudian justru meningkat menjadi 305/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015," katanya.

Demikian pula AKB, hasil SDKI menunjukkan bahwa AKB Indonesia mengalami penurunan meskipun masih tergolong tinggi dari negara-negara Iain di ASEAN.

"Penurunan tersebut yaitu 35/1.000 kelahiran hidup pada tahun 2002 menjadi 34/1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007, dan turun lagi menjadi 24/1.000 kelahiran hidup pada tahun 2017. Dengan jumlah itu, Indonesia masih berada dalam sepuluh negara dengan angka kematian neonatal tertinggi di dunia.

"Hal tersebut tentunya masih menjadi tantangan bagi kita semua untuk mencapai target SDGs (Sustainable Development Goals) dimana secara globaI pada tahun 2030 diharapkan AKI kurang dari 70 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB kurang dari 12 per 1.000 kelahiran hidup," kata Sri Muslimatun yang merupakan anggota Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ini.

Muslimatun menuturkan bahwa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai provinsi dengan penduduk yang cukup banyak, khususnya Kabupaten Sleman yang merupakan kabupaten dengan penduduk paling banyak, dan variatif.

"Kondisi ini sangatlah menuntut tenaga kesehatan khususnya bidan untuk member'ikan pe|ayanan kesehatan yang berkualitas dan paripurna," katanya.

Selain berkecimpung di RS, Sri Muslimatun tercatat pernah menjadi Staff Pengajar di sejumlah Perguruan Tinggi seperti Poltekes Kemenkes, Stikes Aisyiyah, PPKS DIY dan Sekolah Vokasi UGM. Pengalaman Sri Muslimatun sebagai Staff Pengajar itu dimulai sejak 1995 dan konsisten hingga sekarang.

Sekurang-kurangnya telah 39 tahun ia mencurahkan perhatian, peranan, keterlibatan dan pengabdiannya di dalam dunia kesehatan yang notabene sebuah pekerjaan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat luas.

Selama 39 tahun, keterlibatan Sri Muslimatun di dalam dunia kesehatan tidak hanya sebatas pada riwayat akademik dan pekerjaan semata melainkan juga dipertegas dengan pengalaman organisasinya.

Bahkan pada 1982-1987, ia telah menjabat sebagai Ketua IBI Ranting RSUP Dr Sardjito, selanjutnya sebagai Ketua Seksi Pengembangan Profesi Pengurus Daerah IBI DIY, Sekretaris Pengurus IBI DIY, dan sebagai Wakil Ketua I organisasi tersebut.

Di luar organisasi profesi, Sri Muslimatun terlibat dalam sejumlah organisasi seperti Pengurus Yayasan Kanker Indonesia Cabang Sleman, Pengurus Penggerak PKK Desa Sinduadi, P2KS Propinsi DIY, Primasia, PPNI RSUP Dr. Sardjito, Perhuki Propinsi DIY, Komite Sekolah MAN III Yogyakarta, Bidan DELIMA, PW Salimah Propinsi DIY, Lembaga Pendidikan Islam Salsabila Propinsi DIY, RSUP Dr. Sardjito,

Terlepas dari itu, pada 2008 Sri Muslimatun meraih penghargaan Keluarga Sakinah Teladan Nasional dari Departemen Agama (Depag).

Ingin tidak hanya mengabdikan dirinya dalalam bidang kesehatan dan pendidikan, Sri Muslimatun pun mencoba memulai karir politik.

Awal terjun di dunia politik dilakoninya dengan mencalon diri sebagai Calon Wakil Bupati berpasangan dengan Hafidz Hasram, namun kala itu gagal. "Ingin lebih bermanfaat seluas-luasnya untuk kesejahteraan masyarakat Sleman," itulah alasan mendasar ingin berkarir dalam dunia politik.

Pada Pemilihan Legislatif April 2014 kembali ambil bagian mencalonkan diri kemudian terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Sleman di Komisi A.

Selanjutnya pada 2016, Sri Muslimatun kembali mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Sleman mendampingi petahana Sri Purnomo, dan sukses meraih kursi sebagai Wakil Bupati Sleman periode 2016-2021.

Sukses terpilih sebagai Wakil Bupati Sleman,  Sri Muslimatun bersama dengan Bupati Sri Purnomo langsung berupaya mewujudkan visi misi  untuk pembangunan Kabupaten Sleman, di antaranya adalah meningkatkan tata kelola pemerintahan yang baik melalui peningkatan kualitas birokrasi yang responsif dalam memberikan pelayanan bagi masyarakat.

Sri Muslimatun juga berkomitmen untuk mewujudkan Kabupaten Sleman Sebagai Kabupaten Layak Anak.

Bahkan dia juga menargetkan pada 2019 ini Sleman dapat meraih predikat Kabupaten Layak Anak untuk kategori tertinggi, yakni Predikat Utama.

"Sebenarnya Sleman ini sudah memenuhi syarat untuk meraih predikat  KLA Utama, namun masih ada sedikit kendala untuk bisa meraih predikat tertinggi KLA tersebut. Kami optimistis tahun ini target mampu tercapai," kata Sri Muslimatun.

Menurut dia, saat ini di Indonesia baru ada dua kabupaten yang berhasil meraih predikat utama, yakni Surabaya, Jawa Timur, dan Solo, Jawa Tengah.

"Sleman semakin serius mengupayakan KLA. Mulai dari tingkat padukuhan, desa, kecamatan hingga kabupaten semua kami dorong untuk mewujudkan target KLA kategori Utama," katanya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Sleman Mafilindati Nuraini mengatakan Pemerintah Kabupaten Sleman sangat serius untuk meraih predikat KLA kategori Utama.

"Saat ini Sleman baru meraih predikat tingkat Nindya. Tahun ini kami mengejar predikat Utama. Kami masih memproses berbagai persyaratan agar predikat KLA Utama terwujud," katanya.

Mafilindati mengatakan, saat ini jumlah Sekolah Ramah Anak di Sleman masih sedikit.

"Kami menargetkan setidaknya 50 persen SD-SMP di Sleman menjadi Ramah Anak," katanya.

Selain itu, saat ini juga sudah ada 32 dusun dan 25 Puskesmas dengan Predikat Ramah Anak.

"Kami berharap upaya yang sudah dilakukan dapat meluas hingga seluruh lapisan masyarakat. Semua elemen masyarakat Sleman kami harapkan untuk ikut memperjuangkan predikat tersebut," katanya.
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar