Jalur mudik Yogyakarta-Cilacap via alternatif ditempuh 5 jam

id Mudik,Pantai selatan,Pantura,ramadhan 1440 H,sambut ramadhan,tradisi ramadhan,bulan puasa,puasa ramadhan

Kendaraan melintas di jalur alternatif perempatan Pasar Balamoa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Sabtu (18/5/2019 ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/hp

Cilacap (ANTARA) - Salah satu jalur alternatif yang biasa dilewati untuk mudik rute Yogyakarta ke Cilacap atau sebaliknya melalui jalur akternatif Kabupaten Kebumen melalui Cilacap Timur ditempuh selama 5 jam.

Berdasarkan pantauan Antara di Cilacap, Minggu, jalur alternatif ini melalui pesisir pantai selatan dengan tidak melalui Banyumas dan Kebumen Kota.

Dari Yogyakarta susur ke pesisir selatan melalui jalur Daendels menuju Wates, kemudian masuk ke Kabupaten Kebumen namun tidak melalui jalur arteri lintas selatan atau tidak lewat kota.

Kemudian masuk ke Cilacap melalui arah Jetis, di Cilacap Timur, barulah bertemu dengan jalur arteri lintas selatan kembali.

Berdasarkan data yang dihimpun Antara melalui jalur alternatif pesisir selatan ini sebenarnya terdata lebih lama waktu tempuhnya atau sedikit berbelok agak jauh daripada melalui jalur arteri.

Jika melalui jalur arteri, dipantau melalui aplikasi peta digital mampu ditempuh dengan lama perjalanan 4,5 jam, atau lebih cepat 30 menit dari jalur alternatif tersebut.

Namun, pada keadaan yang sebenarnya, jalur arteri lebih bergelombang aspalnya, dan penuh dengan perempatan jalan yang menggunakan lampu merah. Selain itu jalur arteri juga dipenuhi dengan kendaraan muatan besar sehingga lebih rawan untuk dijajal ketika ramai.

Selain itu, menurut pantauan Antara, jalur alternatif Cilacap Timur, Kebumen, Wates banyak pilihan tempat wisata dan juga banyak melalui perkampungan besar, sehingga tidak terlalu sepi ketika perjalanan malam.

Penjual bensin eceran juga banyak, pengemudi tidak perlu khawatir kehabisan bahan bakar karena juga banyak masyarakat yang membuka usaha bengkel.
Baca juga: Dishub Kulon Progo rekayasa lalu lintas di BIY saat Lebaran
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar