Pariwisata berkontribusi terbesar pada pertumbuhan ekonomi di Yogyakarta

id Pariwisata,pertumbuhan ekonomi,yogyakarta

Pariwisata berkontribusi terbesar pada pertumbuhan ekonomi di Yogyakarta

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta Agus Tri Haryono (Eka AR)

Yogyakarta (ANTARA) - Sektor pariwisata memberi kontribusi terbesar pertumbuhan ekonomi di Yogyakarta yaitu mencapai 17,46 persen, sehingga akan tetap dijadikan motor penggerak ekonomi, bahkan untuk perencanaan pembangunan tahun 2021.



“Sektor pariwisata tetap menjadi motor penggerak ekonomi Yogyakarta. Sektor ini memberikan kontribusi terbesar dalam pembangunan ekonomi Yogyakarta,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta Agus Tri Haryono di Yogyakarta, Jumat.



Bahkan, lanjut dia, kontribusi sektor pariwisata Yogyakarta melebihi kontribusi secara nasional yang hanya menyumbang sekitar 4,8 persen untuk pertumbuhan ekonomi di Indonesia.



Oleh karena itu, kata dia, Pemerintah Kota Yogyakarta akan tetap menempatkan sektor pariwisata sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi pada 2021, sekaligus sebagai upaya pemberdayaan menuju peningkatan kesejahteraan masyarakat.



Tema pembangunan Kota Yogyakarta pada 2021 seperti yang disampaikan dalam konsultasi publik Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) di Yogyakarta, Jumat (14/2), adalah peningkatan infrastruktur dan perekonomian berbasis pariwisata untuk kesejahteraan masyarakat.



“Bicara mengenai pariwisata tidak hanya bicara perpindahan manusia saja atau tingkat kunjungan wisatawan. Tetapi ada faktor lain yang harus dipenuhi, salah satunya adalah infrastruktur yang baik guna mendukung kenyamanan wisatawan saat berkunjung ke Yogyakarta,” katanya.



Penataan infrastruktur pendukung pariwisata yang sudah dilakukan Pemerintah Kota Yogyakarta, di antaranya penyusunan rencana kawasan sirip-sirip Malioboro pada 2018, pengerasan jalan di Jalan Suryatmajan dan Pajeksan pada 2019.



Sedangkan pada 2020 akan dilakukan penataan trotoar dari simpang Gondolayu hingga Tugu serta di Jalan KH Ahmad Dahlan, dan pada 2021 dilanjutkan penataan trotoar di Jalan Senopati sepanjang 2,4 kilometer.



Penataan kawasan Yogyakarta bagian selatan juga terus dilakukan dengan pembangunan Taman Budaya Embung Giwangan. Pekerjaan pembangunan embung sudah diselesaikan pada 2019 dan akan dilanjutkan dengan pekerjaan sarana prasarana pendukung.



“Kotabaru juga menjadi bagian dari penataan, yaitu trotoar di Jalan Suroto pada 2018 dan pedestrian Jalan Sudirman pada 2019, serta pada 2021 akan dilanjutkan penataan pedestrian di kawasan Kotabaru sepanjang 5,5 km,” katanya.



Secara prinsip, Agus mengatakan, pembangunan pariwisata harus didasarkan pada konsep 3A+P yaitu amenities, accessibilities, attractions, and promotions. “Empat hal tersebut tidak bisa dilepaskan, meskipun masih ada beberapa hal yang perlu dilakukan perbaikan supaya wisatawan semakin tertarik berkunjung ke Yogyakarta,” katanya.



Ia mencontohkan untuk mendukung aksesibilitas wisatawan dibutuhkan optimalisasi Trans Jogja dan kendaraan shuttle wisata Si Thole, selain itu juga belum ada standar pada aspek higienitas dan pangan aman di pedagang kaki lima.



“Kami juga perlu mencari branding yang tepat untuk promosi wisata di Yogyakarta. Saya kira, branding ini sangat dibutuhkan supaya bisa langsung diingat oleh wisatawan,” katanya.



Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengatakan, salah satu upaya peningkatan ekonomi yang akan dilakukan adalah membuka Rumah Kreatif di lantai empat Pasar Prawirotaman yang saat ini masih dalam proses revitalisasi.



“Rumah kreatif tersebut diharapkan mendukung pembangunan ekonomi di Yogyakarta bagian selatan yang kemudian terintegrasi dengan zona kreatif di Jalan Suroto Kotabaru yang berada di bagian utara Yogyakarta. Harus ada integrasi supaya pembangunan berjalan merata,” katanya.

Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar