NIPT cara baru cek kelainan pada usia awal kehamilan

id Dokter Ardiansjah Dara, dokter kandungan, dokter dara, NIPT, Non- Invasive Prenatal Test, kehamilan trimester pertama, h

NIPT cara baru cek kelainan pada usia awal kehamilan

Cropped close up of a pregnant woman waiting for her doctor to start ultrasound scanning procedure at the hospital copyspace pregnancy expecting mother children healthcare family gynecology diagnosis.

Jakarta (ANTARA) - Non-Invasive Prenatal Test (NIPT) yang sekarang sudah berkembang bisa menjadi cara baru untuk mengecek kelainan, termasuk kelainan kromosom janin pada usia awal kehamilan.

NIPT, terkadang disebut noninvasive prenatal screening (NIPS), merupakan metode penentuan risiko lahirnya janin dengan kelainan genetik tertentu.

Dokter Kandungan Adriansjah Dara SpOG menyebutkan sebelum adanya NIPT pemeriksaan kehamilan di trimester pertama untuk mengecek kelainan kromosom pada janin memiliki risiko tinggi atau pun jika ada yang tidak berisiko kurang akurat.



“Ada pemeriksaan yang harus ambil cairan dari perut ibunya tapi tentu itu berisiko ke janinnya, atau kita ada USG tapi memang hanya 60 persen keakuratannya. Nah sekarang ada pemeriksaan screening efektif, bernama NIPT. Pemeriksaan ini baru beberapa tahun di Indonesia, NIPT bisa dilakukan di 2,5 bulan, diperiksa dengan mengambil darah ibunya nanti hasilnya bisa keluar kurang lebih 10 hari,” kata dokter yang merupakan anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) itu dalam webinar bersama Cordlife, Sabtu.

Meski normalnya pemeriksaan sejenis NIPT kehamilan awal awamnya dilakukan untuk kehamilan berisiko tinggi, namun dokter Dara menyarankan pemeriksaan NIPT itu juga bisa dilakukan oleh ibu yang baru hamil di trimester pertama agar dapat menyiapkan diri jika didapatkan anaknya berisiko mengalami kelainan kromosom.

Dengan keakuratan perkiraan risiko mencapai 90 persen, nantinya ada dua hasil dapat terlihat dari tes NIPT yaitu low risk dan high risk.

Untuk hasil low risk menandakan anak yang berada di dalam kandungan tidak berpotensi mengalami kelainan kromosom dan dapat lahir dengan normal.

Sementara untuk high risk menandakan janin yang dikandung berpotensi besar mengalami kelainan kromosom seperti trisomi 21 atau down syndrome yang sudah cukup dIkenal masyarakat.

“Biasanya jika mendapatkan hasil high risk dari NIPT, dokter kandungan akan menyarankan tes amniocentesis atau pengambilan cairan ketuban untuk memastikan kelainan genetik apa yang dialami dalam kehamilan itu,” kata Dara.
 
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar