14 kasus terkonfirmasi COVID-19 Gunung Kidul dari tes usap acak

id Gunung Kidul,COVID-19, tes usap acak,pembelajaran tatap muka

14 kasus terkonfirmasi COVID-19 Gunung Kidul dari tes usap acak

Kepala Dinas Kesehatan Gunung Kidul Dewi Irawaty. (ANTARA/Sutarmi)

Gunung Kidul (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat ada penambahan kasus harian COVID-19 sebanyak 14 kasus yang merupakan hasil tes usap acak terhadap siswa sekolah menengah atas yang menyelenggarakan pembelajaran tatap muka.

Kepala Dinas Kesehatan Gunung Kidul Dewi Irawaty di Gunung Kidul, Jumat, mengatakan 14 kasus konfirmasi ini tersebar di lima sekolah, yakni SMK Ponjong, SMK Muhammadiyah Playen, SMK Muhammadiyah Karangmojo, SMK Mujahidin, dan SMK Maarif.
 

"Sebanyak 14 kasus terkonfirmasi COVID-19 baru ini merupakan hasil skrining di sekolah lain. Sedangkan di SLB Negeri I Gunung Kidul sudah tidak ada penambahan terkonfirmasi lagi," kata Dewi.

Ia mengatakan atas penambahan kasus baru hasil tes usap acak ini, Dinas Kesehatan masih melakukan skrining kepada siswa dan tenaga pendidik yang kontak erat dengan terkonfirmasi COVID-19. Terhadap siswa yang terkonfirmasi COVID-19 langsung menjalani isolasi mandiri, karena mereka termasuk orang tanpa gejala (OTG) dengan kondisi sehat.

"Kami masih melanjutkan skrining. Hal ini merupakan amanat dari pemerintah pusat," katanya.

Dewi mengatakan total siswa SMA yang diambil sampel dalam tes usap secara ajak sebanyak 1.402 orang, dan yang sudah keluar hasilnya 141 siswa, 16 diantaranya terkonfirmasi COVID-19.

"Semoga tidak ada tambahan lagi. Selanjutnya, kami akan melakukan tes usap secara acak kepada siswa SD dan SMP," katanya.
 

Sementara itu, Kepala Balai Pendidikan Menengah Gunung Kidul Agus Muchdiarto memastikan tidak ada penutupan sekolah, meski ada siswa yang dinyatakan positif COVID-19.

"Penghentian pembelajaran tatap muka hanya dilakukan di kelas yang siswanya dinyatakan positif COVID-19. Sebagai gantinya siswa di kelas tersebut akan menjalani pembelajaran jarak jauh selama 14 hari," katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2022