JKN sokong keluarga Kuat, Petani lereng Gunung Merapi

id program jkn,JKN,lansia,petani,usus buntu,operasi,lereng gunung merapi

JKN sokong keluarga Kuat, Petani lereng Gunung Merapi

Kuat (74) berbaring menunjukkan kartu kepesertaan JKN, didampingi anaknya Waginah, ANTARA/Nur Istibsaroh

Yogyakarta (ANTARA) - Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) hadir sebagai penyelamat bagi keluarga Kuat (74), seorang petani yang tinggal di daerah lereng Gunung Merapi. Hal itu disampaikan oleh Waginah, anak menantunya yang saat itu ditemui tengah menunggu Kuat dalam masa perawatan di rumah sakit seusai operasi usus buntu.

Waginah menceritakan betapa besar manfaat yang dirasakan keluarga ini dengan menjadi peserta JKN, karena telah memberikan rasa nyaman dan tidak lagi khawatir saat ada masalah kesehatan yang menimpa mereka.

Kuat mengidap penyakit usus buntu untuk pertama kalinya. Meskipun sebelumnya pernah mengalami kondisi serupa dan sempat dirawat di ICU.

“Kali ini kondisi bapak memburuk dengan keluhan sakit perut yang parah, sehingga langsung dilarikan ke rumah sakit, dan setelah melalui pemeriksaan di IGD, dokter meminta agar beliau dirawat inap untuk penanganan lebih lanjut,” cerita Waginah saat ditemui pada minggu kedua Agustus 2025.

Baca juga: Program JKNjadi penopang Darowi di usia senja: Sehat, aktif, dan bermanfaat

Waginah menceritakan, keseharian Kuat bekerja mencari rumput untuk memberi makan enam ekor sapi milik saudara dengan sistem bagi hasil, serta mengelola lahan pertanian yang cukup terbatas.
Sebagai anak mantu, Waginah yang tidak tinggal satu rumah dengan bapaknya Kuat, selalu memantau kesehatan kedua orang tuanya.

“Bapak tinggal berdua bersama ibu di rumah sendiri, tidak jauh dari tempat saya tinggal. Sehingga saya bisa rutin memantau kesehatan keduanya,” katanya.

Keadaan ekonomi keluarga ini memang cukup sederhana. Mereka hidup dari hasil bertani dan beternak sapi di area yang tidak terlalu luas, di lereng-lereng Gunung Merapi.

Mereka bersyukur Program JKN dengan menjadi peserta JKN dengan segmen Peserta Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK) telah menjadi penolong utama dalam menangani masalah kesehatan keluarga.

“Iya, semua pengobatan bapak, dari pemeriksaan hingga operasi usus buntu, dibiayai oleh BPJS Kesehatan. Tidak ada menambah biaya apapun,” ungkap Ibu Waginah.

Tidak hanya bapaknya, Waginah pun merasa sangat terbantu dengan adanya program tersebut, saat dirinya sempat menjalani perawatan vertigo dan dua kali operasi mata yang semuanya ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

"Saya tidak bisa membayangkan bagaimana harus membayar semua biaya perawatan jika tidak ada Program JKN," tambahnya.

Baca juga: JKN, Penyelamat hidup Wiwik dari kanker usus

Program JKN telah memberikan jaminan kesehatan yang sangat berarti bagi mereka. Waginah mengatakan selain bapaknya, dirinya, suami, dan kedua anaknya yang masih bersekolah, semuanya terdaftar dalam Program JKN.

Kartu JKN milik mereka senantiasa aktif dan Waginah sangat berterima kasih karena layanan yang diberikan sangat baik.

“Sangat, sangat terbantu, sangat tergantung pelayanannya juga bagus kayak gitu. Tidak ada perbedaan layanan yang diberikan oleh rumah sakit,” ungkap Waginah dengan penuh rasa syukur.

Di desa mereka, bahkan ada imbauan dari kepala desa agar setiap keluarga memeriksa secara berkala keaktifan kartu JKN. Hal ini penting agar sewaktu-waktu diperlukan, kartu JKN bisa langsung digunakan tanpa kendala.

Dalam kesempatan itu, Waginah juga menceritakan cobaan besar yang dihadapi keluarganya. Pada tahun 2010, musibah Gunung Merapi mengakibatkan rumah dan seluruh sapi milik keluarganya juga bapaknya habis terbakar akibat awan panas.

Baca juga: Tetap optimis di usia senja, Winarti merasa tertolong dengan Program JKN

Lima ekor sapi yang dimiliki Kuat mati dalam musibah tersebut. Rumah mereka pun hanya tersisa dinding yang sudah hangus, dan abu vulkanik menutupi hampir seluruh area dengan ketebalan hingga 5 cm.
"Saat itu, Program JKN sangat membantu kami, terutama dalam menghadapi perawatan kesehatan setelah musibah tersebut," ungkap Waginah.

Kini, meski menghadapi berbagai tantangan hidup, keluarga ini terus berjuang. Kuat yang baru saja menjalani operasi usus buntu kini sedang dalam masa pemulihan dengan terapi duduk, dan keluarganya selalu mendampinginya.

“Alhamdulillah, dengan JKN, kami tidak perlu khawatir akan biaya pengobatan. Selama ini kami bisa berobat ke puskesmas tanpa biaya, atau saat harus dirujuk ke rumah sakit pun kami hanya perlu mengikuti prosedurnya dan semuanya gratis,” katanya.

Program JKN menjadi tulang punggung yang memungkinkan masyarakat dari berbagai lapisan, termasuk petani seperti keluarga Kuat, untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang layak tanpa harus terbebani oleh biaya.

Baca juga: Andalkan BPJS Kesehatan untuk penyelamat kesehatan keluarga

Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.