Kulon Progo (Antara Jogja) - Masyarakat Desa Banaran Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menanam 10 ribu bibit mangrove di kawasan muara Sungai Progo.
Pengurus Paguyuban Kismo Muncul, Jazil Ahmadi di Kulon Progo, Senin, mengatakan penanaman dilakukan di lahan tepi Sungai Progo di dekat muara, dari wilayah Pedukuhan X Jonggrangan sampai Pedukuhan XII Sawahan, Desa Banaran, sepanjang 9.000 meter.
"Penanaman mangrove ini dilakukan di lahan yang sudah puluhan tahun hilang tergerus air dan kini muncul lagi pascaerupsi Merapi 2010," kata Jazil.
Ia mengatakan lahan 9000 meter sebelum terkena abrasi merupakan hak milik warga. Agar kondisinya bisa bertahan tidak tergerus erosi dan abrasi lagi, warga pemilik lahan yang tergabung dalam paguyuban Kismo Muncul kemudian berinisiatif melakukan penanaman mangrove.
Jazil mengatakan warga berharap nantinya lahan tersebut setelah dipetakan bisa diurus sertifikat hak milik. Beberapa waktu lalu warga sempat mengajukan ke BPN namun diminta menunggu ketentuan Perda Keistimewaan DIY.
"Lahan hak milik warga dengan sertifikat leter c tersebut hilang tahun 1965 seluas sekitar 80 hektare, semula merupakan lahan pertanian padi dan palawija namun kemudian hilang terkena erosi dan abrasi. Kemudian lahan itu muncul lagi 2011 setelah erupsi Merapi akhir 2010," kata dia.
Inisiatif warga menanam mangrove ini, lanjut Jazil, mendapat respon bagus dari Fakultas Kehutanan UGM. Masyarakat dan Fakultas Kehutanan melakukan kerjasama melakukan penanaman mangrove sejak enam bulan lalu.
"Sampai sekarang ada 10 ribu batang yang sudah tertanam, termasuk 1000 batang yang ditanam hari ini bantuan dari Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertan) Kulon Progo," kata dia.
Kabid Kehutanan Dispertan Kulon Progo Agus Haryawan mengatakan tanaman mangrove ini untuk melindungi dari abrasi dan erosi. "Kami berharap masyarakat yang peduli untuk selalu terlibat. Misi kami penyelamatan lingkungan," kata dia.
(KR-STR)
Masyarakat Kulon Progo tanam mangrove Sungai Progo
Ilustrasi (Foto antaranews.com)
