Budayawan: Lebaran "topat" perlu dilestarikan

id budayawan: lebaran topat

Ilustrasi (Foto mataram.antaranews.com)

Mataram (Antara Jogja) - Pemerhati Budaya Sasak di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Lalu Anggawa Nuraksi mengatakan Lebaran "topat" perlu dijaga dan dilestarikan, termasuk nilai-nilai yang terkandung didalamnya.

"Lebaran 'topat" merupakan tradisi dan warisan dari para Leluhur Suku Sasak yang mengandung kearifan budaya lokal, maka wajib hukumnya untuk dilestarikan," katanya di Mataram, Kamis.

Lalu Anggawa Nuraksi yang dikenal dengan Mamiq Anggawa mengatakan bahwa perayaan Lebaran "topat" hingga saat ini masih banyak disalahartikan oleh masyarakat, khususnya warga Suku Sasak di Lombok.

"Sebenarnya, Lebaran 'topat' merupakan bentuk rasa kegembiraan dari umat Islam dalam menunaikan Ibadah puasa sunnah di bulan Syawal, yaitu puasa selama 6 hari berturut-turut setelah hari raya Idul Fitri," katanya.

Akan tetapi, dalam kenyataannya hingga saat ini, kata dia, banyak masyarakat hanya ikut dalam merayakan Lebaran "topat", tanpa mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam pelaksanaannya.

Dalam perayaan tersebut biasanya masyarakat Lombok mengunjungi tempat-tempat wisata dan berziarah ke pemakaman para leluhur yang semasa hidupnya berjasa dalam menyebarkan ajaran Islam.

"Generasi baru harus memahami nilai-nilai kearifan budaya lokal yang terkandung di dalamnya, karena mereka merupakan pewaris dari tradisi budaya Sasak," kata Mamiq.

Walaupun berbagai macam upaya telah dilakukan untuk mewariskan budaya Sasak kepada generasi muda, tapi saat ini upaya tersebut tidak menjamin bahwa kearifan budaya lokal akan tetap kukuh dalam menghadapi perkembangan zaman.

Sehubungan hal itu, ia menjelaskan, "dalam Pelaksanaannya, perayaan Lebaran "topat" mencangkup tiga aspek yaitu agama, budaya, dan pariwisata," katanya.

Dari segi agama, lanjut dia, dimana dalam ajaran Islam, sudah disebutkan bahwa siapapun yang berpuasa pada bulan Syawal, enam hari setelah Idul Fitri, maka akan diberikan pahala yang berlipat ganda.

"Jadi secara hukum Islam, dianjurkan bagi setiap umatnya untuk melaksanakan puasa di bulan Syawal agar mendapatkan berkah dan hidayahnya," kata Mamiq.

Kemudian dari sisi budaya, Lebaran "topat" merupakan sebuah 'ekspresi' dalam menerapkan syiar Islam yakni tindakan atau upaya dalam menyampaikan dan memperkenalkan berbagai hal tentang Islam.

Sedangkan jika dilihat dari aspek pariwisatanya, Lebaran "topat" telah menjadi tradisi liburan ke tempat-tempat wisata, dengan membawa bekal layaknya berekreasi.

"Karena pada kenyataanya, Lebaran "topat" ini diartikan sebagai wisata pelesiran, maka tak heran tujuan utama yang didatangi yaitu pantai maupun tempat-tempat rekreasi lainnya," kata Mamiq.

Dari ketiga aspek tersebut, ia mengharapkan kepada masyarakat, khususnya para tokoh agama, untuk terus memberikan pemahaman tentang perayaan Lebaran "topat" ini.

"Mungkin secara teori, masyarakat memahaminya, akan tetapi penerapan ilmu dari kearifan budaya lokal yang terkandung di dalamnya, jangan sampai dilupakan," katanya.

(KR-DBP)
Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar