PBTY masuk program "Wonderful of Indonesia"

id Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta

Atraksi barongsai dalam pawai Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta XIII di sepanjang kawasan Malioboro, Yogyakarta, Sabtu malam (24/2). Karnaval budaya yang mengusung tema Harmoni Budaya Nusantara ini juga turut dimeriahkan oleh The Best of Dragon Festival, Drumband Gita Dirgantara, Ondel-ondel Taiwan, Gendawang, Naga Led, dan Barongsai Kolosal. Pawai bermula dari Taman Abu Bakar Ali dan berakhir di Alun-alun Utara, dalam rangka perayaan Cap Gomeh yang akan dilaksanakan pada tanggal 24 Februari-3 Maret 2018. (Foto ANTARA/Riski Mario Johannes Parhusip/mg.yk/AgusP)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Memasuki penyelenggaraan tahun ke-14, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta yang digelar untuk merayakan tahun baru Imlek di Yogyakarta diakui sebagai salah satu agenda wisata dalam program Wonderful of Indonesia.



“Perjuangan bersama seluruh pihak selama 14 tahun tidak sia-sia. Kerja keras ini akhirnya membuahkan hasil yang sangat membanggakan yaitu masuk program ‘Wonderful of Indonesia’,” kata Ketua Umum Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) Tri Kirana Muslidatun di Yogyakarta, Rabu.



Menurut dia, tim dari “Wonderful of Indonesia” sangat detail dalam melakukan penilaian sebelum memutuskan untuk memasukkan kegiatan PBTY dalam program informasi pariwisata nasional yang juga sudah diakui secara internasional tersebut.



Syarat yang harus dipenuhi agar bisa masuk dalam program “Wonderful of Indonesia” di antaranya adalah kegiatan tidak hanya menampilkan sisi budaya saja tetapi juga memiliki unsur pendukung yaitu budaya, pemberdayaan masyarakat, ekonomi kreatif, hingga mendukung pengembangan pariwisata.



Selain itu, budaya yang ditampilkan tidak hanya mewakili budaya lokal saja tetapi juga budaya dalam cakupan yang lebih luas. “Kegiatan PBTY tidak hanya menampilkan budaya Tionghoa saja tetapi juga diselingi berbagai penampilan budaya lokal,” katanya.



Penilaian yang dilakukan oleh tim “Wonderful of Indonesia” juga tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat. “Tim melakukan penilaian selama tiga tahun berturut-turut. Mereka pun melakukan verifikasi langsung di lapangan terhadap aplikasi yang kami ajukan. Konsistensi penyelenggaraan kegiatan juga menjadi salah satu aspek penilaian,” katanya.



Tri Kirana yang tetap memegang jabatan sebagai Ketua Umum PBTY sejak penyelenggaraan tahun kedua mengatakan, tim penilai bahkan menyebut jika tingkat kunjungan wisatawan pada PBTY lebih banyak dibanding saat Sekaten.



“Setiap hari, rata-rata ada sekitar 3.000 hingga 5.000 pengunjung. Jika sebelumnya, penyelenggaraan PBTY hanya dilakukan lima hari, maka sejak tiga tahun terakhir diperpanjang menjadi tujuh hari. Ini ditujukan karena tingkat kunjungan semakin padat dari tahun ke tahun,” katanya.



Ia berharap, penyelenggaraan kegiatan tersebut semakin dikenal lebih luas, bahkan hingga ke tingkat internasional. “Pada penyelenggaraan tahun berikutnya, kami akan menyelenggarakan berbagai lomba bertaraf internasional mulai dari Jogja Dragon Festival hingga melukis Wayang Potehi. Hadiah lomba akan diusahakan berupa Piala Presiden,” katanya. 



Kampung Ketandan sebagai lokasi utama penyelenggaraan PBTY juga akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, di antaranya keberadaan Rumah Budaya. Pemerintah DIY membelikan rumah tersebut untuk digunakan sebagai pusat budaya Tionghoa di Yogyakarta.


 

    

Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar