Petani Kulon Progo mengharapkan bantuan traktor roda empat

id Bawang merah,Bulak Kayangan,Desa Srikayangan,Kulon Progo

Petani Kulon Progo mengharapkan bantuan traktor roda empat

Bendung Drigul di Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, tidak dapat dimanfaatkan. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Kulon Progo (ANTARA) - Petani bawang merah di Bulak Kayangan, Desa Srikayangan, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengharapkan bantuan alat mesin pertanian berupa traktor roda empat untuk mempercepat proses pengolahan lahan sehingga tidak mundur masa tanam.

Petani didi Bulak Kayangan Purwanto di Kulon Progo, Senin, mengatakan saat ini, di Desa Srikayangan baru ada dua traktor roda empat, yakni satu milik gabungan kelompok tani dan satu milik GP3A Papah.

"Kami berharap bantuan roda empat ditambah lagi karena sangat dibutuhkan oleh petani, khususnya untuk mempercepat persiapan masa tanam bawang merah. Kemudian, kami berharap pemkab menambah bantuan traktor kecil atau kultivator," harap Purwanto.

Ia mengatakan saat ini, di Desa Srikayangan baru ada 20 unit, harapannya ditambah menjadi 50 unit hingga 60 unit, sehingga dapat mempercepat penyiapan lahan.

"Pekerja di sektor pertanian sudah langka, sehingga harus didukung alat mesin pertanian yang modern. Biaya pekerja tanam bawang merah sebesar Rp80 ribu perhari perorang. Itu pun jumlahnya yang bersedia sangat sedikit," katanya.

Kasi Pembangunan dan Pemberdayaan Desa Srikayangan Sumarjan mengatakan kebutuhan petani bawang merah saat ini adalah ketersediaan air, karena setiap hari tanaman bawang merah harus rutin disiram. Namun, kendalanya Bendung Drigul yang diharapkan mampu mencukupi kebutuhan air, ternyata tanggulnya jebol.

Menurut dia, keberadaan Bendung Drigul ini sangat strategis dan vital bagi petani, karena dapat menekan biaya produksi, dalam hal pengairan.

Ia berharap pemerintah dan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) memperbaiki tanggul dan sayap Bendung Drigul yang jebol. Selain itu, BBWSSO diharapkan melakukan normalisasi Sungai Papah.

"Selama tanggul tidak dibangun, petani tidak bisa memanfaatkan air secara maksimal. Saat ini, kami mengandalkan air dari GP3A Papah, meski satu minggu mengalir dan satu minggu berhenti," katanya.

Selain itu, Sumarjan mengatakan petani bawang merah mengalami kendala pada masa tanam bawang merah ini. Yakni persoalan alat mesin pertanian yang kurang, sehingga menyebabkan musim tanam ada yang mundur.

"Pada awal Agustus sampai saat ini, penanam bawang merah tidak serentah. Hal ini disebabkan keterbatasan alat mesih pertanian untuk mengolah lahan pertanian," katanya.

Menurut dia, masa tanam mundur bisa berdampak tanaman bawang merah berpotensi terserang hama dan penyakit. Hama yang paling riskan, yakni ulat grayak. Kalau penyakit berupa trotol.

"Persoalan masa tanam bawang merah, yakni kemunduran masin tanam beruntun dari musim tanam. Selain itu, alat mesin pertaian untuk mengolah lahan tidak mencukupi. Kami berharap penambahan traktor roda empat, serta kultivator. Alat ini, khusus untuk mengolah lahan persemaian bawang merah," katanya.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kulon Progo Yuli Yantoro mengatakan luas lahan Bulak Kayangan sekitar 500 hektare yang ada di Desa Srikayangan, Desa Tuksono, Salamrejo dan Demangrejo.

Petani di wilayah ini membutuhkan air, alat mesin pertanian, dan ketersediaan pupuk, jalan usaha tani. Pemkab Kulon Progo sudah membangun dan memperbaiki jaringan air diberbagai wilayah, khususnya Bendung Drigul.

Begitu juga bantuan alat mesin pertanian, namun belum mencukupi kebutuhan petani. Begitu juga jalan usaha tani, yang dikebut pemkab sehingga mempermudah petani mengangkut pupuk ke sawah.

Namun, ada persoalan air yang dialami petani bawang merah saat musim tanam pada Agutus dan awal September ini adalah ketersediaan air.

Bendung Drigul yang diharapkan dapat mencukupi kebutuhan air saat tanam bawang merah, ternyata ada masalah, yakni tanggul Bendung Drigul yang jebol sehingga perlu perbaikan.

Ia mengatakan petani juga membutuhkan traktor roda empat, traktor kecil atau kultivator, dan alat pemanen berupa combine harvester.

"Saat musim tanam padi dan bawang merah ini, jumlah tenaga kerja di sektor pertanian sangat kurang, sehingga perlu dukungan modernisasi alat mesin pertanian (alsintan). Harapannya dapat mengurangi biaya produksi," harapnya.

Yuli Yantoro mengatakan perputaran uang selama masa tanam bawang merah di Bulak Kayangan ini sangat tinggi. Sekali masa tanam bawang merah, perputaran uang berkisar Rp40 miliar.

Asumsinya, setiap lahan bawang merah dengan luasan 1.000 meter persegi hasil panen bisa mencapai Rp25 juta dikali sedikitnya 160 hektare.

"Perputaran uang saat tanam bawang merah ini sangat tinggi, sehingga perlu dukungan alat mesin pertanian yang modern," katanya.
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar