Tim Pengabdi UMY dorong Gerakan Sodaqoh Sampah di Desa Wonokerto

id umy,sampah

Tim Pengabdi UMY dorong Gerakan Sodaqoh Sampah di Desa Wonokerto

Tim Pengabdi Program Pengabdian Desa Mitra (PPDM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) (HO-Humas UMY)

Yogyakarta (ANTARA) - Tim Pengabdi Program Pengabdian Desa Mitra (PPDM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mendorong Gerakan Sodaqoh Sampah kepada warga Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

"Program yang berlangsung selama 30 hari ini dilaksanakan mulai 6 Januari hingga 6 Februari 2020," kata Ketua Tim Pengabdi PPDM UMY Arie Kusuma Paksi PhD di Kampus UMY, Rabu.

Ia mengatakan permasalahan sampah masih menjadi masalah krusial baik di perkotaan maupun perdesaan. Tak dapat dipungkiri bahwa manajemen pengelolaan sampah yang efektif dan memberikan nilai lebih bagi masyarakat masih menjadi primadona saat ini.

Bank Sampah sebagai bentuk manajemen pengelolaan sampah di beberapa daerah di Yogyakarta terlihat berjalan cukup sukses. Meskipun demikian Bank Sampah tak hanya menjadi satu-satunya varian manajemen pengelolaan sampah yang efektif dan memberikan nilai lebih bagi masyarakat.

"Gerakan Sodaqoh Sampah, yang sudah berjalan di Kampung Brajan, Tamantirto, Kasihan, Bantul juga merupakan varian manajemen pengelolaan sampah yang tak kalah sukses," katanya.

Menurut dia, perbedaan mendasar Bank Sampah dan Gerakan Sodaqoh Sampah terletak pada motivasi dasar seseorang menyumbangkan sampah yaitu untuk bersodaqoh.

"Selanjutnya, hasil dari sodaqoh sampah tersebut diuangkan untuk kepentingan masyarakat seperti kegiatan sosial, pendidikan, kesehatan, dan keagamaan," ujar Arie didampingi anggota Tim Pengabdi Dr Nanik Prasetyoningsih, bersama 10 mahasiswa KKN dari Kelompok 119 yang membantu menularkan ide Gerakan Sodaqoh Sampah kepada warga Desa Wonokerto, Turi, Sleman.

Berbeda dengan Bank Sampah, lanjut Arie, motivasi dasar seseorang menyumbangkan sampah adalah untuk menukarkan sampahnya menjadi uang dalam bentuk deposito atau tabungan.

Arie menuturkan, Desa Wonokerto dipilih sebagai salah satu sasaran pengabdian karena komitmen warganya terhadap pengelolaan sampah telah teruji. Hal tersebut dibuktikan dengan didirikannya Bank Sampah di lima pedukuhan dari 13 pedukuhan yaitu Kembang, Pulesari, Pojok, Manggungsari, dan Dadapan.  

"Hanya saja menurut warga, manajemen pengelolaan melalui Bank Sampah tersebut tersendat masalah pembayaran dari para pengepul. Tim Pengabdi PPDM UMY berharap dengan perlahan mengubah motivasi menabung menjadi beramal sosial. Manajemen pengelolaan sampah berbasis masyarakat diharapkan akan terus berjalan dan memberikan nilai lebih bagi masyarakat secara kolektif," kata Arie.

Inisiator Gerakan Sodaqoh Sampah Ananto Isworo SAg mengatakan bahwa gerakan yang dimulai sejak 9 Juli 2013 tersebut ternyata kini berbuah manis.

"Tak hanya menyumbangkan sampah, motivasi beramal masyarakat juga dituangkan dengan mensodaqohkan berbagai barang-barang elektronik seperti kulkas, TV, AC, serta kendaraan bekas seperti motor dan mobil," kata Ananto.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar