Harmoni bukit pasir Mingsha

id Mingsha Shan, bukit pasir Mingsha,bukit pasir bernyanyi, wisata Dunhuang, Danxia,Bars Snow, etnis Yugur

Harmoni bukit pasir Mingsha

Para wisatawan menunggang unta melintasi gurun pasir Gunung Mingsha, Kota Dunhuang, Provinsi Gansu, China, Selasa (8/6/2021). (ANTARA/M. Irfan Ilmie)

Dunhuang, Gansu (ANTARA) - Ada gunung di tengah kota, bisa bernyanyi pula.

Sekelumit kemuskilan bergelayut di kepala para diplomat dan wartawan asing tatkala mendengar pernyataan itu.

Tentu saja, mereka tak bisa menyembunyikan rasa takjub manakala bus yang ditumpanginya berhenti di ujung aspal.

Pandangan mereka semua tertuju pada Gunung Mingsha, bukit pasir warna merah keemasan yang  berada di ujung jalan raya di Kota Dunhuang.

Puncaknya tidak terlalu tinggi sehingga tidak terlihat menjulang seperti kebanyakan puncak pergunungan lain di sepanjang Gurun Gobi yang membentang di wilayah utara, barat, dan baratlaut China.

Namun justru Mingsha Shan atau Gunung Mingsha ini yang menjadi magnet bagi wisatawan di Kota Dunhuang.

Danau berbentuk bulan sabit di bagian tengah gurun menambah elok pemandangan Mingsha Shan.

Tak peduli tua atau muda, semuanya berjibaku dengan pasir. Ada yang berguling-gulingan, ada yang duduk-duduk tanpa alas, ada juga yang mendaki sampai puncak.

Bagi yang tidak mau capai karena melangkah di atas pasir tidak ringan, bisa naik unta.

Sedangkan bagi yang ingin menikmati pemandangan Mingsha Shan dari udara, bisa menumpang pesawat kecil yang disewakan, terbang tandem bersama pilotnya.

Mobil beroda besar (big foot) juga bisa menjadi pilihan bagi mereka yang menyukai tantangan berkendara di atas padang pasir.

Para penggemar hiking yang ingin turun dari puncak dapat memgambil jalan cepat dengan menggunakan papan luncur yang disewakan seharga 20 yuan atau sekitar Rp44.500.

Jangan khawatir tabrakan karena di di bagian puncak dan lereng sudah ada yang mengatur.

Oleh karena letaknya di tengah kota dan banyaknya wahana yang disewakan, maka Mingsha Shan tak pernah sepi dari pengunjung, seperti saat ANTARA mendatangi objek wisata tersebut pada 8 Juni 2021 yang bukan merupakan hari libur sekolah atau kerja.

Pemandangan itu memupuk optimisme para pemangku kepentingan di Kota Dunhuang akan pulihnya industri sektor pariwisata pascapandemi COVID-19 seperti yang mereka idamkan selama ini.

"Kami yakin bisa mendatangkan sembilan juta wisatawan per tahun seperti dulu lagi," kata Wakil Direktur Kantor Urusan Luar Negeri Kota Dunhuang, Yu Jingmei.

Keyakinan itu tidak berlebihan, mengingat pada musim panas seperti sekarang, Dunhuang didatangi 20 ribu hingga 30 ribu orang per hari.

"Tidak hanya Mingsha, tapi kami punya objek wisata lain. Bandara kami juga didarati pesawat dari Beijing, Shanghai, Chengdu, Guangzhou dan kota besar lainnya," ujar pejabat perempuan tersebut percaya diri.
Para wisatawan berfoto di atas hamparan gurun pasir berlatar belakang danau di Gunung Mingsha, Kota Dunhuang, Provinsi Gansu, China, Selasa (8/6/2021). ANTARA/M. Irfan Ilmie


Mistis

Mingsha Shan bukan hanya mengandalkan panorama bukit pasir dan danau berbentuk sabit. Mingsha Shan bukan sekadar objek wisata pegunungan yang mengandalkan keindahan panorama alam.

Ada hal mistis sehingga Mingsha Shan dijuluki sebagai Bukit Pasir Bernyanyi.

Ketika angin bertiup, bukit yang membentang sepanjang 40 kilometer dari arah timur ke barat dan 20 kilometer dari utara ke selatan tersebut mengeluarkan suara menderu, menggelegar, dan mencuit.

Fenomena alam yang bisa menghasilkan suara hingga 105 desibel selama beberapa menit itu tidak hanya terjadi di Mingsha, namun ada 34 tempat lain di dunia.

Di Amerika Serikat ada beberapa bukit yang bisa mengeluarkan suara, seperti Kelso Dunes, Eureka Dunes di California, Warren Dunes (Michigan), dan Sand Mountain (Nevada).

Gurun Namib di Afrika, Odashi di Jepang, dan Bukit Sinai di Mesir juga bisa mengeluarkan suara seperti itu.

Lalu kenapa bukit pasir bisa bersuara yang seakan membentuk sebuah harmoni?

Ada banyak teori yang bisa menjelaskan fenomena alam seperti itu. Emisi suara sangat mungkin terjadi karena angin yang melewati atau melintas di atas bukit pasir. Dengan catatan, butir pasir harus bulat dengan diameter antara 0,1 hingga 0,5 milimeter, pasir harus mengandung silika, dan berada pada kelembaban tertentu. Namun yang lebih penting lagi adalah bukit pasir harus berbentuk bulan sabit.

Syarat-syarat yang bersifat alami itu ada pada Mingsha Shan dan tempat-tempat lain di belahan dunia.

Gesekan pasir diterpa angin hingga naik-turun itulah yang menghasilkan bunyi-bunyian. Bayangkan saja kalau volume pasirnya mencapai ribuan atau bahkan jutaan meter kubik tentu akan menghasilkan sebuah orkestra alami.
 

Selain Gunung Mingsha ada lokasi lain yang tak kalah unik di kota paling barat Provinsi Gansu yang berbatasan langsung dengan Daerah Otonomi Xinjiang itu. Namanya Mogao Grottoes.

Mogao Grottoes adalah sebuah lembah yang pada bagian tebingnya terdapat sedikitnya 1.000 gua bertingkat. Di setiap gua itu tersimpan patung-patung Buddha dan mural dalam beberapa generasi yang dibuat sebelum Dinasti Qin hingga sekitar abad ke-11.

Oleh karena lokasinya yang strategis, dekat dengan Bandar Udara Dunhuang, maka Mogao Grottoes ini juga selalu dibanjiri wisatawan.

Semua patung terbuat dari tanah liat yang rangkanya dari jerami, sedangkan pewarnaan pada mural dibuat dari bahan tumbuhan, bahkan ada yang diperoleh dari Afghanistan, seperti warna biru tua dan muda.

Sebagian patung-patung itu ada yang terkelupas atau bahkan terpotong pada bagian tubuhnya. Namun dibiarkan begitu saja demi terjaga keasliannya.

Warna-warni mural ada yang memudar karena faktor usia yang sudah mencapai 2.000 tahun. Beberapa peneliti memberikan cairan tertentu secara saksama agar warna mural sesuai aslinya itu tetap terjaga.

Struktur batu dari gua bertingkat tiga di tebing bukit tetaplah kokoh dan alami. Yang berubah adalah setiap gua dilengkapi dengan pintu dengan kunci otomatis demi menjaga keamanan aset bernilai historis tinggi itu dari tangan-tangan jahil. 


 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar