Bantul (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta mengusulkan penambahan dua pos pemadam kebakaran (damkar) sektor kecamatan, masing masing di wilayah Srandakan dan Dlingo.
"Dua pos pemadam di Srandakan dan di Dlingo sudah diusulkan tahun ini, meskipun nanti eksekusinya mungkin di tahun 2028, karena biasanya realisasinya dua tahun setelah diusulkan," kata Kepala Pelaksana BPBD Bantul Mujahid Amrudin di Bantul, Rabu.
Dia mengatakan, ada beberapa pertimbangan yang menjadi dasar diperlukannya pos damkar di dua lokasi tersebut. Misalkan, untuk wilayah Srandakan, diperlukan guna menghadapi beroperasional jalur jalan lintas selatan (JJLS) Bantul yang sudah terhubung dengan Kulon Progo, dan akan terhubung dengan Gunungkidul melalui Kelok 23.
"Sudah kita diskusikan dengan Bappeda (Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah), ada skemanya karena untuk pos damkar Srandakan itu sebelah selatan kita komunikasi dengan kelurahan yang punya tanah Sultan Ground," katanya.
Dia mengatakan, pos damkar di Srandakan nanti menjadi prioritas karena untuk mengantisipasi JJLS, karena ketika JJLS dengan Kelok 23 tersambung, maka ada potensi terjadinya karena mobilitas yang padat.
"Terlebih Kelok 23 itu jalan berkelok, maka kami mengantisipasi. Jadi, selain potensi-potensi wisata dan ekonomi juga dalam konteks kebencanaan kami antisipasi dengan upaya pengadaan peralatan dan personel di sisi selatan, agar kalau ada sesuatu kami sudah siap," katanya.
Sementara di wilayah Dlingo, kata dia, pos damkar diperlukan, karena daerahnya merupakan destinasi wisata, mulai dari simpang tiga Patuk ke selatan sampai kawasan Mangunan Dlingo terdapat berbagai objek wisata hutan pinus.
"Sementara ini, ketika kejadian kebakaran di Dlingo, kita jangkau dari pos damkar Piyungan itu tidak cukup waktu 15 menit, kita juga punya pos damkar sektor Imogiri, kalau naik ke Dlingo dengan waktu 15 menit juga tidak cukup," katanya.
Dengan demikian, kata dia, BPBD Bantul memiliki inisiatif untuk menambah pos damkar di wilayah Dlingo. Karena dari tujuh pos sektor yang ada di Bantul saat ini, sudah memiliki wilayah manajemen kebakaran masing-masing dengan penanganan maksimal 15 menit.
"Untuk itu kami berinisiatif agar di Dlingo dapat dirikan pos damkar, tentu dengan tonase mobil yang kecil karena kondisi medan yang berkelok dan nanjak. Kalau tonase besar terlalu berisiko bagi teman-teman pemadam kebakaran," katanya.
