Pameran "wttj" tampilkan "ukiran" binatang

id ukiran

Pameran "wttj" tampilkan "ukiran" binatang

Foto Istimewa (dok istimewa)

Yogyakarta (ANTARA Jogja) - Pameran seni rupa karya Rudy Aceh Darmawan bertajuk "Welcome to The Jungle" di Kedai Kebun Forum Yogyakarta menampilkan berbagai macam "ukiran" kertas berbentuk binatang.

"Dengan media `paper cut`, Rudy menciptakan berbagai macam binatang. Pada teknik ini detil merupakan kata kunci," kata Direktur Artistik Kedai Kebun Forum (KKF) Agung Kurniawan di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia, hanya menggunakan kater, kertas putih dan hitam dibentuk menjadi berbagai figur binatang seperti ular, macan, singa, dan burung. Binatang dalam karya-karya Rudy adalah metafora dari perjalanan perantauan.

"Binatang-binatang ditoreh di atas kertas adalah sebuah simbol, dan masing-masing jenis binatang adalah simbol dari sesuatu atau seseorang. Karya Rudy adalah fabel atau cerita binatang," katanya.

Ia mengatakan Rudy Menggunakan cerita atau simbol binatang untuk menceritakan kembali dunia manusia. Fabel biasanya dipakai untuk menyentil perkara-perkara yang tidak mungkin disuarakan secara realistis.

"Dalam konteks karya Rudy, karakter binatang dimaksudkan sebagai sebuah metafora dari perjuangannya sebagai seorang seniman yang mencoba bertahan di rimba raya seni rupa Indonesia yang kejam," katanya.

Menurut dia, tidak adanya narasi utuh memang menyulitkan orang untuk mengikuti pola pikir seniman itu. Alih-alih menawarkan sebuah struktur untuk bisa diikuti dengan gampang, Rudy justru merumitkannya dengan menggantung figur-figur binatang, dan lampu-lampu kemudian disorotkan pada kertas-kertas tipis berlobang.

Seniman itu mencipta bayangan saling kait mengait seperti pertunjukan wayang tanpa kelir. Meskipun dalam teks verbalnya seolah dipenuhi dengan narasi, sesungguhnya inti dari karya Rudy adalah pada permainan bayangan dan "ukiran" kertasnya.

Ia mengatakan narasi fabel bisa jadi cuma numpang lewat. Bentuk macan, singa, ular, dan burung adalah kumpulan figur-figur yang secara acak dihubungkan satu sama lain oleh ruang galeri.

Ruang galeri menawarkan pengalaman seperti di dalam rimba dan kita seolah sedang berteduh dari terik matahari dengan bernaung di bawah payung pohon tropis yang lebat.

"Saya kira cara tepat menikmati karya dalam pameran yang berlangsung hingga 23 Oktober 2012 itu adalah dengan membiarkan kita terpukau pada detilnya, lalu tersesat di dalamnya," katanya.

(B015)


Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.