Pengrajin Genteng Godean harapkan bantuan alat pengering

id Pengrajin genteng

Pengrajin Genteng Godean Sleman masih memproduksi genteng secara manual. (Foto Antara/Victorianus Sat Pranyoto)

Sleman (ANTARA) - Pengrajin Genteng Godean di Kecamatan Godean dan Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang tergabung dalam Asosiasi Pengrajin Genteng Sembada Manunggal Sejahtera mengharapkan ada bantuan mesin atau alat pengering karena pada musim hujan mereka kesulitan mengeringkan cetakan genteng sebelum proses pembakaran.

"Dengan kondisi cuaca hujan seperti saat ini, mengakibatkan penurunan produksi genteng yang cukup signifikan," kata Ketua Asosiasi Pengrajin Genteng Sembada Manunggal Sejahtera Sukiman di Sleman, Selasa.

Menurut dia, para pengrajin saat ini masih memproduksi genteng secara manual sehingga sangat tergantung sinar matahari dalam proses pengeringannya.

"Kami meminta dinas terkait agar memberikan bantuan berupa alat pengering. Karena jika hanya mengandalkan sinar matahari bukan tidak mungkin para pengrajin akan gulung tikar. Sebenarnya sejak beberapa tahun lalu pemerintah sudah mencari terobosan untuk pengadaan alat pengering tersebut,  namun ya itu masih proses," katanya.

Ia mengatakan, untuk penjualan saat ini juga masih stagnan. Sebab, menurutnya saat ini juga belum banyak proses pembangunan rumah di masyarakat.

"Biasanya mulai ramai pada April," katanya.

Sukiman mengatakan, sebenarnya kelangsungan industri genteng Godean yang telah berlangsung turun temurun tersebut juga banyak menghadapi masalah.

'Mulai dari ketersediaan bahan baku hingga munculnya persaingan kurang sehat," katanya.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Genting Sembada Manunggal Sejahtera Suroto mengatakan, masuknya produk genteng dari luar daerah dan mengatasnamakan genteng Godean semakin banyak. Apalagi genting luar daerah itu kualitasnya lebih rendah dengan harga jual yang juga rendah. 

"Genteng dari luar daerah itu dijual sekitar Rp700 hingga Rp800 per biji. Harga tersebut setengahnya dari genteng Godean," katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut telah berlangsung sejak 2006, setelah kejadian gempa di Bantul. Dimana kebutuhan akan genteng meningkat.

"Karena tidak bisa mencukupi akhirnya ambil dari Magelang, Jawa Tengah," katanya.

Ia mengatakan, setelah itu lambat laun para makelar gentrng lebih memilih produk dari Magelang atau daerah lain. Karena harga yang ditawarkan lebih murah.

"Tapi mereka mengaku genteng itu dari Godean, padahal kualitasnya berbeda," katanya.

Ia mengatakan, selain itu saat ini bahan baku genteng berupa tanah liat juga sulit didapatkan. Hal itu karena saat ini sudah banyak bukit yang dijual dan beralih fungsi menjadi perumahan. 

"Saat ini, bahan baku yang ada didapatkan dari Kulonprogo yang dicampur dengan tanah liat dari Godean. Jadi memang agak beda kualitasnya," katanya.

Suroto mengatakan, dengan kondisi demikian, saat ini jumlah pengrajin genteng menurun drastis, dari semula sekitar 1.500 pengrajin saat ini hanya terisisa sekitar 600.

"Para pengrajin ini ada di Margodadi, Margoluwih, Sidorejo, Sidoluhur, dan Sidoagung," katanya.

Ia mengatakan, jumlah penjualan juga saat ini sangat menurun drastis. Dari dulu bisa sampai 70 ribu per bulan saat ini pohaknya paling banter hanya mampu menjual 30 ribu per bulan.***1***



Pewarta: Victorianus Sat Pranyoto

 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar