Satu penerjun payung Jogja Air Show di Parangtritis gagal mendarat

id Penerjun gagal mendarat

Petugas gabungan mengevakuasi korban, penerjun payung Jogja Air Show yang gagal mendarat karena berlabuh di muara Sungai Opak Depok Parangtritis Bantul, DIY. (Foto Antara/Hery Sidik)

Bantul (ANTARA) - Salah seorang pria penerjun payung dalam Jogja Air Show 2019 di Pantai Depok Parangtritis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami insiden gagal mendarat di landasan pacu Depok karena terhempas angin kencang, Sabtu pagi.

Penerjun payung yang diketahui bernama Ramli, warga Kalimantan Barat itu, gagal mendarat karena berlabuh ke muara Sungai Opak, Laguna Depok Parangtritis yang memiliki kedalaman sekitar tiga meter, sehingga butuh pertolongan petugas pengamanan.

Atas kejadian itu, sejumlah petugas gabungan dari Ditpolair Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (Paskhas), serta Satlinmas Depok Parangtritis mengevakuasi korban dengan perahu nelayan dan membawa korban ke tepi sungai.

Salah seorang dari tim penyelamat, anggota Ditpolair Polda DIY, Brigadir Agustus Bayu Sakti, mengatakan insiden itu bermula ketika korban berniat mendarat di "runway" Depok, namun tiba-tiba terempas angin kencang sehingga harus mendarat darurat di muara Sungai Opak, Laguna Depok.

"Kita sudah melihat korban menjauhi dari landasan (Depok), satu (penerjun) turun di tengah (sungai) dan tiga penerjun di pinggir,  mendarat dengan selamat," katanya.

Melihat kejadian itu, petugas kemudian berlari ke lokasi itu untuk mengevakuasi korban.

"(Sesaat setelah mendarat di sungai, red.) Korban sudah mau tenggelam. Perahu nelayan sudah sampai korban kita angkat, kita lakukan penanganan pertama, syukur korban bisa sadar dan selanjutnya dibawa ke rumah sakit," katanya.

Brigadir Nasution, seorang penerjun payung dari Polairud Polda DIY yang mendarat darurat dengan selamat di Sungai Opak, Laguna Depok itu, mengatakan awalnya ada 12 penerjun yang dibagi untuk terjun dari ketinggian masing-masing 6.000 feet, 5.000 feet, dan 4.000 feet.

Akan tetapi, menurut dia, usai para penerjun membuka parasut, payung berjalan mundur karena terempas angin kencang.

Akibatnya, para penerjun tidak bisa bergerak maju, sehingga yang dilakukan oleh para penerjun yakni mencari pendaratan yang aman.

"Karena angin sangat besar dan kencang, yang mendarat di landasan ada satu, lainnya kebuang. Ada yang di Pantai Parangtritis ada yang di Laguna Depok ini," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar