Dishub Yogyakarta siapkan variasi skenario uji coba semipedestrian Malioboro

id Malioboro, semi pedestrian, uji coba

Dishub Yogyakarta siapkan variasi skenario uji coba semipedestrian Malioboro

Uji coba semi pedestrian di Jalan Malioboro Yogyakarta dengan melarang kendaraan bermotor masuk ke jalan tersebut, kecuali untuk Transjogja dan kendaraan darurat lain (ANTARA/Eka AR)

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta menyiapkan variasi skenario uji coba lanjutan semipedestrian di Malioboro guna memastikan manajemen lalu lintas yang nantinya paling tepat diterapkan saat kawasan tersebut sudah sepenuhnya menjadi semipedestrian.



“Untuk kali ini, kami mencoba melakukan uji coba saat akhir pekan di luar libur panjang. Kami ingin melihat bagaimana fluktuasi arus lalu lintas di Jalan Malioboro dan kawasan sekitarnya,” kata Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta Windarto di Yogyakarta, Jumat.



Dalam uji coba semi pedestrian tersebut, seluruh kendaraan bermotor dilarang melintas di Jalan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta, dikecualikan untuk bus Transjogja dan kendaraan darurat lainnya. Namun, andong dan becak kayuh serta sepeda tetap diperbolehkan melintas.



Sedangkan untuk skenario selanjutnya, lanjut Windarto, akan dilakukan penutupan di seluruh sirip jalan di sepanjang Jalan Malioboro sehingga seluruh sirip jalan tersebut diberlakukan lalu lintas dua arah.



Untuk uji coba pada Jumat (7/2), dua sirip jalan di Jalan Malioboro yaitu Jalan Suryatmajan dan Jalan Pajeksan belum diberlakukan dua arah. Pengguna jalan dari Jalan Suryatmajan juga masih bisa memotong Jalan Malioboro untuk masuk ke Jalan Pajeksan.



“Kami mengevaluasi, ada beberapa pengguna kendaraan yang nekat masuk ke Maliboro atau tidak menengok kanan-kiri saat memotong Jalan Malioboro padahal di ruas jalan ini ada banyak pejalan kaki yang sedang melakukan berbagai aktivitas dan terkadang mereka tidak menyadari ada kendaraan yang melintas,” katanya.



Oleh karena itu, lanjut Windarto, untuk uji coba semi pedestrian berikutnya akan dilakukan penutupan di seluruh sirip Jalan Malioboro dan menerapkannya menjadi dua arah. “Mungkin akan kami lakukan di akhir Februari atau awal Maret,” katanya.



Penutupan seluruh sirip jalan di Jalan Malioboro tersebut juga ditujukan untuk membiasakan pengguna jalan jika nantinya kawasan Malioboro sudah sepenuhnya diberlakukan sebagai kawasan semi pedestrian.



Berdasarkan rencana awal, manajemen lalu lintas yang akan diterapkan saat Malioboro menjadi kawasan semi pedestrian adalah menjadikan Malioboro sebagai sebuah bundaran besar dengan sejumlah ruas jalan di sekitarnya akan berubah menjadi jalan searah.



Jalan Suryotomo dan Jalan Mataram akan menjadi jalan searah ke utara, Jalan Pasar Kembang searah ke barat, Jalan Gandekan Lor dan Jalan Bhayangkaran menjadi searah ke selatan.



Namun, lanjut Windarto, muncul opsi manajemen lalu lintas yang baru yaitu menjadikan Jalan Letjen Suprapto menjadi jalan searah ke selatan dan Jalan Bhayangkara tetap menjadi jalan searah ke utara.



“Kami akan melakukan uji coba Jalan Letnan Jenderal Suprapto menjadi searah ke selatan. Ruas jalan tersebut dinilai mengalami peningkatan volume kendaraan yang cukup signifikan saat Jalan Malioboro ditutup,” katanya.



Jika ruas Jalan Letjen Suprapto diberlakukan arus lalu lintas searah ke selatan, maka ruas Jalan Pembela Tanah Air (Peta) akan diberlakukan searah ke arah timur. Namun, jika Jalan Bhayangkara diterapkan searah ke selatan maka Jalan Peta akan searah ke barat.



“Kami akan lihat bagaimana manajemen lalu lintas terbaik yang bisa diterapkan. Tujuannya, supaya arus lalu lintas tetap lancar,” katanya yang menyebut akan melakukan empat hingga lima kali uji coba di luar Selasa Wage.



Setiap Selasa Wage, seluruh pedagang kaki lima dan komunitas di Malioboro libur dan melakukan gotong royong membersihkan kawasan tersebut. Pada saat yang sama juga diberlakukan uji coba semi pedestrian di Jalan Malioboro.

Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar